Danau Lingkat, Indah, Memikat dan Keramat

Airnya berwarna hijau pekat, dengan panorama indah dari pegunungan, deretan pohon yang masih asri dan hutan tropis lebat. Pemandangannya sungguh memikat dan dikeramatkan warga. Pengunjung dilarang mengarungi danau dengan perahu, hanya boleh dengan rakit.

Keindahan Danau Lingkat memang sudah tidak diragukan lagi. Suasana asri serta pemandangan berupa hamparan pepohonan hijau menjadi sajian utama danau. Lokasi dari danau berjarak kurang lebih 43 kilometer dari Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi. Wisatawan pun harus berkendara selama satu jam lebih jika ingin berkunjung ke danau. Berada pada dataran tinggi yang mencapai 1.100 meter diatas permukaan laut, membuat hawa disekitar danau terasa sangat sejuk.

Kondisi ini pun ditambah dengan rindangnya pepohonan hijau yang tak hanya enak dipandang mata, tetapi juga menggambarkan betapa lestarinya alam Kerinci. Dengan bersantai di pinggir danau, wisatawan akan dibuat lupa dengan segala kepenatan kota.


Danau Keramat, Dilarang Berperahu
Danau Lingkat memiliki air berwarna hijau pekat. Danau seluas 12 hektar ini sungguh sangat mempesona. Warna hijau air terlihat sangat serasi dengan pepohonan yang berada disekeliling danau. Panorama pun terasa semakin sempurna dengan deretan pegunungan dan perbukitan. Pengunjung dihibur suara-suara merdu kicauan burung yang menenangkan jiwa. Namun, tak hanya indah, danau ini juga dikenal merupakan danau keramat dimata penduduk setempat.

Wisatawan diperbolehkan untuk mengelilingi danau dengan menaiki rakit. Namun terdapat beberapa pantangan yang harus ditaati oleh pengunjung. Bagi para pendatang, harus menjaga sopan santun, perilaku, tutur kata serta dilarang takabur atau sombong.

Pengunjung ataupun masyarakat desa juga dilarang menggunakan perahu saat mengarungi danau. Larangan ini berawal dari kisah ratusan tahun lalu saat seorang gadis yang berasal dari Desa Selam Paung hilang setelah berperahu di danau. Kedua orang tua gadis pun sempat mencari hingga petang, namun tetap saja tak membuahkan hasil.

Setelah peristiwa hilangnya gadis, masyarakat desa berjanji tidak akan pernah mengarungi danau dengan perahu. Danau pun sempat dikeramatkan, dan tak pernah ada orang yang berani mengunjunginya. Hingga pada tahun 80an, mulai ada orang yang berkunjung ke danau meski larangan menaiki perahu masih diberlakukan.

Di seberang danau, wisatawan bisa menemukan sebuah batu besar yang disebut warga setempat sebagai batu belang. Warga pun percaya, batu ini digunakan tempat mandi dewa. Tak jauh dari batu, juga terdapat sebuah tempat yang konon menjadi tempat favorit para putri penunggu danau mandi. Konon, saat putri hendak mandi, bunga disekitar danau akan mekar dan jatuh ke danau yang menimbulkan aroma harum.

Foto : Hendi Fresco