Negeri Leluhur Suku Minangkabau, Desa Terindah di Dunia

Nagari Tuo Pariangan terletak di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Nagari atau kampung kecil bersahaja inilah yang dipercaya sebagai kampung asal Suku Minangkabau dalam kitab adat mereka. Sebuah majalah di Amerika menyebutnya sebagai desa terindah di dunia.

Sebuah gapura dengan hiasan rumah adat Minangkabau menyambut orang-orang yang menuju negeri tertua di Minangkabau tersebut. Jalan kecil yang mendaki itu dipadati rumah-rumah berarsitektur lama di kiri-kanannya, persawahan berjenjang berwarna hijau dan kuning. Lepau kopi masih ramai di sini. Barangkali kebiasaan menyesap kopi dan duduk bergerombol di warung-warung masih menjadi kebiasaan di negeri berhawa sejuk ini.


Cikal Bakal Peradaban Minang
Nagari yang berjarak hanya sekitar 24 km dari pusat kerajaan Minangkabau, Pagaruyung ini kerap disebut di dalam Tambo Minangkabau. Kitab masyarakat Minangkabau ini tidak hanya bertutur tentang sejarah, namun juga falsafah hidup masyarakat Minangkabau sejak dulu kala, dan masih dipegang teguh hingga hari ini. Pariangan disebut sebagai cikal bakal peradaban Minangkabau.

Negeri ini tidak lepas dari nama beberapa tokoh penting, nenek moyang dalam Tambo Minangkabau, seperti Maharajo Dirajo, Suri Dirajo, Cati Bilang Pandai, dan Indo Jalito. Suri Dirajo bahkan diabadikan menjadi nama sebuah lapangan yang berada di tengah-tengah Pariangan.

Kenapa keempat tokoh tersebut membangun peradaban Minangkabau di Pariangan dan bukan wilayah lain? Kenapa di negeri yang luasnya hanya 17,92 km2? Hal ini masih menjadi misteri yang menambah rentetan daftar kemisteriusan sejarah Minangkabau. Namun, berada di Pariangan, waktu seolah berjalan lambat, bahkan berhenti sama sekali.

Udara yang sejuk dan bersih, masyarakat ramah yang tidak terlalu ramai, dan hamparan pemandangan yang memanjakan mata terpampang sesaat setelah kita meninggalkan wilayah pemukiman penduduk menuju ke pelosok negeri Pariangan yang berada di kaki gunung Marapi.

Orang-orang tua masih beraktifitas seperti menyabit rumput guna makan ternak-ternaknya. Tidak ada lahan kosong yang terabaikan di sini. Semua lahan ditanam, walaupun hanya untuk tanaman sayur-mayur yang sederhana. Barangkali inilah alasan tokoh-tokoh tersebut membangun cikal bakal peradaban Minangkabau di sini.

Di Pariangan yang tentram dan nyaman. Tidak heran bila Majalah Travel Budget, majalah pariwisata Internasional Amerika Serikat mendapuknya sebagai salah satu desa terindah di dunia. Negeri elok yang membuat orang-orang enggan meninggalkan ketika mengunjunginya.

Foto : Fatris MF