Balap Sapi Nusantara, Kompetisi, Tradisi dan Filosofi

Meski berbeda-beda, ternyata ada satu atau dua adat dan tradisi yang memiliki persamaan atau kemiripan. Kegiatan balapan sapi dimiliki oleh masyarakat Sumatera Barat, Madura, serta Bali.

Indonesia memang kaya akan suku, adat, dan budaya. Di setiap sudut tanah air, berbagai kelompok masyarakat menganut gaya hidup dan nilai-nilai yang berbeda-beda namun tetap ada di bawah payung Nusantara.

Namun, meski berbeda-beda, ternyata ada satu atau dua adat dan tradisi yang memiliki persamaan atau kemiripan. Misalnya saja kegiatan balapan sapi yang dimiliki oleh masyarakat Sumatera Barat, Madura, serta Bali.

Sapi dikenal sebagai simbol kekuatan. Sejak zaman pra-sejarah, sapi jantan sering dijadikan lambang ketangguhan bagi para pria. Sapi juga dikenal sebagai sebagai hewan yang bermanfaat dan banyak gunanya. Selain bisa dijadikan sebagai bahan makanan bagi manusia, sapi juga bermanfaat untuk kegiatan bertani sehingga dianggap sebagai pembawa berkah. Makanya akhirnya muncullah berbagai tradisi dan upacara adat yang mengikutsertakan hewan ternak yang satu ini.


Tetap Lurus di Tengah Lumpur
Masyarakat Sumatera Barat biasa menggelar kegiatan pacu jawi, balapan sapi yang biasa diadakan setiap selesai musim panen. Sejak ratusan tahun yang lalu, para petani yang ada di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat terbiasa mengadakan pacu jawi sebagai kegiatan untuk mengisi waktu luang sekaligus memberi hiburan bagi sesama masyarakat.

Permainan ini dilakukan oleh seorang joki yang mengendarai sepasang sapi dengan peralatan pembajak sawah. Joki akan memegang tali dan mengigit ekor sapi agar bisa berlari kencang. Sementara sapi berlari, joki ikut terbawa karena berpijak di alat bajak pacu dari bamboo yang terpasang pada sapi. Uniknya, yang menjadi pemenang bukan yang tercepat, melainkan yang bisa berlari secara lurus. Sebab, hal ini menggambarkan seorang pemimpin dan rakyatnya yang bisa berjalan selaras di jalan yang lurus.


Mencari Sapi Terkuat
Berbeda lagi dengan warga Madura yang mengadakan karapan sapi, lomba balap sapi yang dilakukan dengan memacu sapi di dalam trek pacuan. Dulunya, tanah Madura terkenal gersang dan kurang subur untuk dijadikan lahan pertanian. Oleh karena itu orang Madura berpindah haluan dari petani menjadi nelayan dan peternak sapi.

Namun suatu ketika, seorang ulama memperkenalkan cara bercocok tanam dengan menggunakan sepasang bambu yang disebut nanggala atau salaga yang ditarik dua ekor sapi. Untuk mendapatkan sapi yang cocok, dilakukanlah karapan sapi untuk mendapatkan sapi-sapi yang kuat untuk membajak sawah. Sejak saat itulah karapan sapi menjadi sebuah tradisi yang diwariskan turun temurun oleh orang Madura dan sering dilakukan menjelang musim panen habis.


Kejar-Kejaran Kerbau di Jembrana
Kalau di Bali, ada kegiatan serupa yang dinamai Makepung, dalam bahasa Indonesia artinya berkejar-kejaran. Makepung adalah tradisi yang dilakukan masyarakat Bali, khususnya di Kabupaten Jembrana.Tradisi ini merupakan lomba pacu kerbau yang dulunya dimainkan oleh para petani di sela kegiatan membajak sawah.

Dulu, para petani saling adu cepat dengan memacu kerbau yang dikaitkan pada sebuah gerobak dan dikendalikan oleh sang joki. Lama kelamaan, kegiatan ini pun diminati banyak kalangan sehingga kini menjadi salah satu atraksi budaya di Bali yang ditonton banyak wisatawan dan turis asing.

Peserta yang mengikuti lomba makepung bisa mencapai ratusan pasang kerbau dan joki, lho. Suasananya pun sangat meriah karena diiringi dengan musik jegog atau gamelan khas Bali yang terbuat dari bambu. Uniknya,, jika peserta yang terdepan mencapai finish ternyata berjarak kurang dari 10 meter dengan peserta di belakangnya, maka peserta di belakangnyalah yang keluar sebagai pemenang. Unik, bukan?