Suku Dani, Penghuni Lembah Baliem yang Mendunia

Dani adalah suku yang bermukim wilayah Pegunungan Tengah, Papua dan mendiami wilayah Kabupaten Jayawijaya dan sebagian kabupaten Puncak Jaya. Keberadaan suku ini sudah ratusan tahun lalu, tetapi baru ditemukan oleh peneliti Amerika, Richard Archbold pada 1935.

Suku Dani merupakan suku asli Papua yang cukup dikenal hingga ke seluruh penjuru dunia. Suku ini dikenal sangat keras dan memiliki budaya perang. Suku Dani dikenal sebagai penghuni lembah Baliem yang sangat terampil bercocok tanam dan berburu dan menggantungkan hidupnya dari beternak babi.

Kesenian masyarakat suku Dani tergolong tinggi. Hal ini terlihat dalam setiap rumah yang mereka tinggali selalu ada tempat untuk membuat kerajinan atau menenun. Beberapa hasil kerajinan masyarakat Suku Dani diantaranya anyaman kantong, jaring penutup kepala dan pengikat kapak. Selain hasil kerajinan berupa perlengkapan sehari-hari, mereka juga pandai dalam membuat berbagai peralatan dari bata, diantarnya, Moliage, Valuk, Sege, Wim, Kurok, dan Panah sege.


Masyarakat Komunal
Dalam hal sistem kekerabatannya, Suku Dani adalah masyarakat komunal yang tidak mengenal sistem kekerabatan inti, ayah, ibu, dan anak. Mereka hidup secara berkelompok yang tinggal dalam satu wilayah rumah bernama Silimo. Dalam satu Silimo berisi antara 3 sampai 4 keluarga. Beberapa Silimo  menjadi kampung, dan beberapa kampung menjadi sebuah klan. Klan-klan inilah yang menjadi satu kesatuan suku Dani. Mereka tinggal berpencar di seluruh wilayah Lembah Baliem hingga ke Puncak Jayawijaya.

Banyaknya jaringan hubungan keluarga dalam Suku Dani seringkali membuat perselisihan. Perang antar klan, kampung, atau keluarga juga sering terjadi. Biasanya perselisihan disebabkan hal-hal perebutan tanah, perempuan, dan pencurian hewan ternak yang berupa babi. Tidak jarang korban nyawa pun melayang.

Ketika masalah tidak dapat diselesaikan baik-baik, panah, tombak, dan parang dapat menancap kapan pun ke tubuh musuh. Namun, di masa modern ini mereka sudah mengenal sistem ganti rugi uang. Kini, perang sudah jarang terjadi, permasalahan perebutan lebih sering diselesaikan dengan sistem ganti rugi.


Tiga Sub Bahasa Melanesia dan Papua Tengah
Walaupun kini beberapa masyarakat suku Dani sudah bisa berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia,
mereka tetap mempertahankan bahasa nenek moyangnya. Bahasa suku Dani termasuk dalam keluarga bahasa Melanesia dan bahasa Papua Tengah.

Bahasa Suku Dani terdiri dari 3 sub keluarga bahasa, yaitu Sub keluarga Wano di wilayah Bokondini,
Sub keluarga Dani Pusat, yang t memiliki 2 logat, yaitu logat Dani Barat dan logat lembah Besar Dugawa, dan yang terakhir adalah Sub keluarga Nggalik & ndash


Berkelompok Dalam Satu Honai
Suku Dani memiliki rumah tradisional yang disebuat dengan Honai, rumah yang memiliki atap setengah oval seperti kubah dan beratap jerami. Rumah Honai yang kecil dilengkapi dengan penerangan memakai perapian dan rumah ini tidak memiliki jendela. Sepintas Honai mirip dengan Iglo, rumah tradisional di Kutub Utara,

Honai memiliki ketinggian setinggi 2,5 meter, terdiri dari dua lantai. Lantai pertama digunakan sebagai tempat tidur. Dan lantai dua, sebagai tempat istirahat, makan, dan mengerjakan kerajinan tangan.

Satu honai biasa ditempati oleh 5-10 orang laki-laki, karena mereka hidup berkelompok. Ada 3 macam Hanoi yang dipakai dalam masyarakat Suku Dani, yaitu honai yang dipakai untuk tempat tinggal laki-laki, Honai yang dipakai untuk perempuan, yang disebut dengan Ebei, dan untuk binatang peliharaan yang disebuat dengan Wamai. Ketiganya bmemilik bentuk sama, hanya fungsinya yang berbeda.
Beberapa Honai membentuk satu kelompok dengan sejumlah Ebai yang menandakan sebagai jumlah istri. Laki-laki Suku Dani menganut poligami, dengan beberapa istri, terutama seorang kepala adat.


Kepercayaan Menghormati Nenek Moyang
Suku Dani sangat menghormati roh nenek moyang. Setiap penghormatan kepada roh nenek moyangnya digelar dengan pesta babi. Konsep kepercayaannnya adalah Atou, yaitu kekuatan sakti para nenek moyang yang diturunkan secara patrilineal atau diturunkan kepada anak laki-laki.

Kekuasaan sakti dari nenek moyang sangat akrab dengan lingkungan tempat mereka menggantungkan hidupnya, yaitu kekuatan menjaga kebun, kekuatan menyembuhkan penyakit dan menolak bala serta kekuatan menyuburkan tanah. Untuk menghormati nenek moyangnya mereka membuat lambang nenek moyang yang disebut Kaneka dan menggelar upacara Kaneka Hagasir yang bertujuan menyejahterakan keluarga, masyarakat atau  untuk mengawali dan mengakhiri perang.


Kepala Suku Pemimpin Watlangka
Suku Dani dipimpin oleh seorang kepala suku besar yang disebut Ap Kain yang memimpin desa adat watlangka. Ada juga 3 kepala suku yang posisinya berada di bawah Ap Kain dan memegang bidang diantaranya Ap. Menteg, Ap. Horeg, dan Ap Ubaik Silimo biasa yang dihuni oleh masyatakat biasa dikepalai oleh Ap. Waregma.

Pada tingkat uma, pemimpinnya adalah laki-laki yang sudah tua, tetapi masih mampu mengatur urusannya dalam satu halaman rumah tangga maupun kampungnya. Urusan tersebut antara lain pemeliharaan kebun dan Babi serta melerai pertengkaran. Pemimpin inilah yang berwenang memberi tanda dimulainya perang atau pesta.

Salah satu tradisi yang tidak lazim pada masyarakat suku Dani adalah tradisi potong jari. Tradisi ini dilakukan untuk menunjukkan kesedihan dan rasa duka cita karena anggota keluarga meninggal dunia. Tradisi ini untuk sendiri menurut keyakinan mereka untuk mengembalikan perasaan sakit akibat kehilangan.

Tidak hanya satu jari yang dipotong, tetapi ada yang memotong sampai semua jarinya. Uniknya, tradisi memotong jari hanya berlaku untuk kaum wanita saja. Tetapi sejalan dengan masuknya para misionaris ke wilayah Papua, agama pun mulai dikenal, sehingga tradisi yang tidak manusiawi ini mulai ditinggalkan.