5 Taman Nasional di Pulau Jawa Ini Bikin Malas Pulang

Taman nasional merupakan kawasan yang dilindungi oleh negara untuk menjaga ekosistem di kawasan tersebut. Indonesia memiliki 53 taman nasional, 12 berada di Pulau Jawa, 5 diantaranya menjadi destinasi wisata alam yang sangat kondang.

Taman nasional selain untuk keperluan konservasi, juga dibuka untuk destinasi wisata alam dan petualangan. Untuk masuk ke kawasan konservasi, seseorang harus memegang simaksi (surat ijin masuk kawasan konservasi). Sebagai objek wisata petualangan, suasana liar yang ada di taman nasional menjadi tantangan tersendiri bagi yang memiliki jiwa petualang. Keindahannya yang liar menantang, sekaligus memikat, bikin malas pulang.

Tak perlu jauh-jauh ke pulau-pulau eksotik atau pelosok Indonesia. Pulau Jawa, bahkan hanya 2 jam dari Jakarta dan Surabaya, juga memiliki sejumlah taman nasional dengan karakter dan keindahan yang istimewa.


Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) terletak di Provinsi Jawa Barat. Ditetapkan pada tahun 1980, taman nasional ini merupakan salah satu yang tertua di Indonesia. TN Gunung Gede Pangrango terutama didirikan untuk melindungi dan konservasi ekosistem dan flora pegunungan di Jawa Barat. Dengan luas 21.975 hektare, wilayahnya  mencakup dua puncak gunung Gede dan Pangrango beserta tutupan hutan pegunungan di sekelilingnya.

Kawasan Gede-Pangrango juga dikenal sebagai salah satu tempat favorit dan tertua, bagi penelitian-penelitian tentang alam di Indonesia. Menurut catatan modern, orang pertama yang menginjakkan kaki di puncak Gede adalah Reinwardt, pendiri dan direktur pertama Kebun Raya Bogor, yang mendaki G. Gede pada April 1819. Ia meneliti dan menulis deskripsi vegetasi di bagian gunung yang lebih tinggi hingga ke puncak. Reinwardt sebetulnya juga menyebutkan, bahwa Horsfield telah mendaki gunung ini lebih dahulu daripadanya, akan tetapi catatan perjalanan Horsfield ini tidak dapat ditemukan.


Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS)
Taman Nasional Kepulauan Seribu adalah kawasan pelestarian alam bahari di Indonesia yang terletak kurang lebih 45 km sebelah utara Jakarta. Secara administratif kawasan TNKpS berada dalam wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, terletak di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, tepatnya di tiga kelurahan yaitu Pulau Panggang, Pulau Kelapa, dan Pulau Harapan.

Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu tersusun oleh ekosistem pulau-pulau sangat kecil dan perairan laut dangkal, yang terdiri dari gugus kepulauan dengan 78 pulau sangat kecil, 86 gosong pulau dan hamparan laut dangkal pasir karang pulau sekitar 2.136 hektare (reef flat 1.994 ha, laguna 119 ha, selat 18 ha dan teluk 5 ha), terumbu karang tipe fringing reef, mangrove dan lamun bermedia tumbuh sangat miskin hara/lumpur, dan kedalaman laut dangkal sekitar 20–40 m. Terdapat 3 ekosistem utama pembentuk sistem ekologis kawasan TNKpS, yaitu hutan pantai, hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang.

Taman Nasional laut ini memiliki lebih dari 44 pulau diantaranya yang terkenal sebagai perlindungan burung adalah Pulau Rambut. Flora dan fauna yang dilindungi juga banyak terdapat di wilayah ini diantaranya terumbu karang, Gelidium, Pandan laut, warau laut, bakau dan mangrove. Sedangkan fauna dilindungi antara lain lumba-lumba hidung botol, Hiu karang, beberapa jenis burung dan Moluska seperti Kima, kerang kepala kambing, dan batu laga.


Taman Nasional Baluran
Taman Nasional Baluran terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo dan Wongsorejo, Banyuwangi (sebelah utara), Jawa Timur. Nama taman nasional ini diambil dari nama gunung yang berada di daerah ini, yaitu Gunung Baluran.  Taman nasional ini terdiri dari tipe vegetasi sabana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun. Tipe vegetasi sabana mendominasi kawasan Taman Nasional Baluran yakni sekitar 40 persen dari total luas lahan.

Flora yang ada di Taman Nasional ini diantaranya Widoro bekol, gadung, kemiri, dan bekong. Sedangkan fauna yang dilindungi di wilayah ini diantaranya macan Tutul Jawa , Harimau Jawa (Punah tahun 1970-an), Banteng, Burung Merak, Jalag dan kucing Bakau.


Taman Nasional Alas Purwo
Taman Nasional Alas Purwo (TN Alas Purwo) terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Secara geografis terletak di ujung tenggara Pulau Jawa wilayah pantai selatan. Secara umum tipe hutan di kawasan TN Alas Purwo merupakan hutan hujan dataran rendah. Hutan bambu merupakan formasi yang dominan, kuranglebih 40 % dari total luas hutan yang ada. Sampai saat ini telah tercatat sedikitnya 584 jenis tumbuhan yang terdiri dari rumput, herba, semak, liana, dan pohon.

Keanekaragaman jenis fauna di kawasan TN Alas Purwo secara garis besar dapat dibedakan menjadi 4 kelas yaitu Mamalia, Aves, Pisces dan Reptilia. Mamalia yang tercatat sebanyak 31 jenis, diantaranya, Banteng (Bos javanicus), Rusa (Cervus timorensis), Ajag (Cuon alpinus), Babi Hutan (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), Macan Tutul (Panthera pardus), Lutung (Trachypithecus auratus), Kera Abu-abu (Macaca fascicularis), dan Biawak (Varanus salvator).


Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur, Indonesia, terletak di wilayah administratif Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo. Taman yang bentangan barat ke timurnya sekitar 20-30 kilometer dan utara ke selatannya sekitar 40 km ini ditetapkan sejak tahun 1982 dengan luas wilayahnya sekitar 50.276,3 ha.

Di kawasan ini terdapat kaldera lautan pasir yang luasnya sekitar 6290 ha. Batas kaldera lautan pasir itu berupa dinding terjal, yang ketinggiannya antara 200-700 meter.

Sebelum ditetapkan sebagai taman nasional, daerah Tengger merupakan kawasan hutan yang berfungsi sebagai cagar alam dan hutan wisata. Kawasan hutan ini berfungsi sebagai hutan lindung dan hutan produksi. Melihat berbagai fungsi tersebut, Kongres Taman Nasional Sedunia mengukuhkan kawasan Bromo Tengger Semeru sebagai taman nasional dalam pertemuan yang diselenggarakan di Denpasar, Bali, pada  14 Oktober 1982 atas pertimbangan alam dan lingkungannya yang perlu dilindungi serta bermacam-macam potensi tradisional kuno yang perlu terus dikembangkan. Pada  12 November 1992, pemerintah Indonesia meresmikan kawasan Bromo Tengger Semeru menjadi taman nasional.