Warisan Masa Kolonial di Perkebunan Teh Alahan Panjang

Sebelum masuk ke kawasan wisata Danau Kembar, hamparan hijau perkebunan teh di perbukitan yang bergelombang sungguh memanjakan mata. Atmosfer eksotik, warung-warung kopi menguapkan aroma, asap dari tungku pemanggangan jagung di pinggir jalan dan laki-laki yang berlilit sarung di leher.

Kabut pagi bertengger di pucuk-pucuk teh yang menghampar luas. Kadang dari pagi hingga siang sore, kabut masih menyelimuti dengan sejuk. Perempuan-perempuan yang sedang melakukan rutinitas memetik teh menjadi pemandangan yang bersahaja. Teh, memang menjadi salah satu motor perekonomian masyarakat di sini. Tidak hanya sekarang, perkebunan teh di sini ternyata telah melalui lorong waktu yang sangat panjang, sejak tahun 1928.


Jadi Rebutan Belanda-Jerman
Dulu, di masa lalu, wilayah perkebunan teh ini menjadi lahan yang diperebutkan oleh orang Belanda dan Jerman. Undang-undang agraria tentang aturan penanaman modal oleh investor juga berdampak sampai ke Alahan Panjang, Solok, Sumatera Barat. Pada akhirnya, daerah yang merupakan onderaafdeling (setingkat kecamatan) dari Kerinci ini sebagian besarnya dikelola oleh Belanda.

Teh ditanami dalam jumlah yang besar di bawah kendali Handelsvereenigmg Amsterdam (H.V.A.), yang berpusat di Kayu Aro, Kerinci. Orang Jerman juga mendapatkan sedikit wilayah dari perebutan tersebut, tepatnya di daerah Akar Gadang, sekitar 16 kilometer dari Alahan Panjang, seluas 82 hektar teh kemudian ditanamnya. Untuk tempat tinggal, mereka membangun villa yang tenang di puncak bukit di tengah perkebunan tersebut. Sejenak, barangkali tanah kelahiran menjadi terlupakan. 

Saat ini, perkebunan teh di Alahan Panjang dikelola oleh pemerintah di bawah PT. Perkebunan Nusantara. Masyarakat sekitar masih melakukan rutinitas yang sudah hampir seabad lamanya mereka tekuni, memetik teh. Tidak dipungkiri, waktu seolah berjalan lambat di sini. Jika dilihat dari berbagai foto dan lukisan yang diabadikan oleh fotografer Eropa di masa lalu, wajah perkebunan teh Alahan Panjang tidak terlalu jauh berubah.

Alahan Panjang masih dihiasi bukit-bukit bergelombang dengan hamparan kebun teh yang seperti tikar beludru hijau jika dilihat dari kejauhan. Alangkah menyenangkan ketika melewati daerah ini, berhenti sejenak sambil menikmati hijaunya kebun teh yang terhampar, sambil menyeruput kopi panas dan menikmati jagung bakar yang ditawarkan di warung-warung pinggir jalan di sini.

Foto : Fatris MF