Ikan Salai Kerumutan, Kelezatan dari Sungai Kelantan

Oleh-oleh khas Riau dari Suaka Margasatwa Kerumutan yang dibuat di bagan apung sungai Kelantan. Lembutnya daging ikan selais, patin dan baung jadi makin istimewa dengan aroma asap kayu yang khas.

Dari desa Teluk Meranti, dengan menggunakan boat selama kurang lebih satu jam. Kita akan tiba di Suaka Margasatwa (S.M.) Kerumutan. S.M. Kerumutan merupakan hutan hujan dataran rendah dengan hutan rawa, dibelah oleh Sungai Kelantan. Sungai dengan air coklat keemasan ini merupakan habitat ikan sungai yang dikonsumsi oleh masyarakat Teluk Meranti dan kota Pangkalan Kerinci, ibukota Kabupaten Pelalawan.

Jika berkunjung ke Teluk Meranti, pada saat hari pasar yaitu hari Minggu, jangan lupa membeli oleh-oleh khas dari Teluk Meranti ini, ikan salai. Ikan salai merupakan ikan yang diolah dengan cara pengasapan dan berwarna coklat keemasan.

Bau amis dari ikan sungai hilang karena proses ini dan menghasilkan daging ikan dengan tekstur yang lembut dan aroma sangit atau asap kayu yang khas. Pada dasarnya semua ikan dapat dijadikan ikan salai, namun, di Teluk Meranti, mereka mengolah ikan sungai seperti selais, patin, dan baung menjadi salai.


Ikan salai Teluk Meranti
Proses pembuatan ikan salai di S.M. Kerumutan berlangsung di bagan apung di tepi sungai. Bagan/ rumah apung merupakan tempat tinggal sementara bagi masyarakat Teluk Meranti di Kerumutan untuk mencari ikan. Biasanya, mereka akan tinggal selama satu atau dua minggu di bagan. Setiap hari, dengan menggunakan jaring rawai dan pancing. Nelayan-nelayan ini mengambil ikan di Sungai Kelantan.

Setelah ikan-ikan sungai yang dipancing terkumpul, mereka akan mengolah ikan menjadi salai. Cara mengolah ikan salai dimulai dengan membersihkan ikan dengan cara dicuci, kemudian, ikan-ikan segar ini harus direndam dalam larutan asam cuka selama 10 hingga 15 menit sebelum ditiriskan. Selanjutnya ikan diletakkan di atas tungku sederhana beralasakan kawat, mereka menyebut ini  salayan.

Bahan bakar membuat ikan salai adalah bara kayu. Ikan akan diletakkan di atas salayan. Dengan memanfaatkan  media asapnya, pelan-pelan ikan mengering. Proses pengeringan ini membutuhkan waktu kurang lebih 24 jam. Selama dua minggu di sungai, kurang lebih 5 sampai 10 kg ikan salai dapat dibuat.

Jenis ikannya, tergantung musim ikan. Biasanya ikan sungai khas, seperti ikan selais, patin atau baung. Ikan salai dijual per kg dijual Rp 80.000 sampai Rp 120.000 per kg. Di tangan koki yang handal, ikan salai ini bisa diolah menjadi gulai ikan salai dengan daun singkong, atau ikan salai goreng dengan cabe merah yang lezat. Bau amis ikan akan hilang berganti bau harum kayu berpadu dengan legitnya daging ikan.

Foto : Bayu Amde