Pelabuhan Sunda Kelapa, Pelabuhan Tertua di Nusantara

Selain bisa menaiki perahu, kita juga bisa koleksi foto keren dengan pemandangan kesibukan para nelayan dan panorama air laut yang tenang di Pelabuhan Sunda Kelapa.

Pelabuhan Sunda Kelapa berlokasi di Penjaringan, Jakarta Utara. Selain dekat dengan pusat kota Jakarta, biaya yang dikeluarkan pun cukup minim. Tiket masuk untuk pejalan kaki hanya Rp2.500, sementara biaya sewa perahu sekitar Rp50.000.

Kalau sudah masuk ke area pelabuhan, mata kita akan disambut dengan pemandangan yang membuatmu seolah-olah menembus lorong waktu karena sisa-sisa peninggalan sejarah masih kental terasa.

Di perairan, tertambat barisan kapal-kapal pinisi tua yang digunakan untuk membawa barang-barang dan logistik. Kalau gemar fotografi, jejeran kapal beserta rombongan awak kapal yang sibuk bongkar muatan dapat menjadi objek foto yang menarik.

Kalau beruntung, jika diijinkan kita bisa naik ke salah satu kapal pinisi yang tengah beristirahat, lho. Tapi, di sini juga bisa menyewa perahu milik nelayan untuk berkeliling. Biasanya banyak pengunjung pelabuhan yang sengaja datang untuk memotret pemandangan atau hanya sekedar menikmati senja. Jelas saja, dengan latar belakang air laut yang tenang dan jejeran kapal pinisi, tentu memberi siluet indah saat tertimpa semburat hangatnya senja.

Pelabuhan Sunda Kelapa Dulu dan Kini

Pelabuhan ini sudah ada sejak abad ke-5, yang dimiliki oleh Kerajaan Tarumanegara. Kepemilikannya pindah ke tangan Kerajaan Sunda pada abad ke-12. Di tahun 1610, Pelabuhan Sunda Kelapa dibangun dengan kanal sepanjang 810 meter. Saat itu Belanda membuat perjanjian dengan Pangeran Jayakarta.

Dalam perjanjian itu, Belanda meminta restu untuk membuat gudang dan pos dagang di timur muara Sungai Ciliwung. Setelah perjanjian itu disetujui, Belanda mendapat untung besar atas penjualan rempah-rempah hasil panen rakyat Indonesia. Belanda pun melakukan ekspansi ke Jayakarta dan mengubah namanya menjadi Batavia.

Kanal Pelabuhan Sunda Kelapa pun diperbesar menjadi 1.825 meter di tahun 1817 oleh Belanda. Namun saat memasuki abad ke-19 pelabuhan ini justru sepi, karena adanya pendangkalan air sehingga menyulitkan kapal yang akan berlabuh. Belanda pun melirik Tanjung Priok untuk dikembangkan menjadi pelabuhan baru. Akhirnya peran Pelabuhan Sunda Kelapa tergantikan.

Pasca kemerdekaan, pelabuhan ini kembali dirombak, sehingga kanalnya memiliki panjang 3.250 meter dan dapat menampung hingga 70 perahu layar. Pelabuhan ini pun masih ramai dikunjungi pedagang dari dalam dan luar negeri. Namun lambat laun aktivitasnya makin menurun.

Aktivitas di pelabuhan tertua Nusantara ini emang tak seramai masa jayanya dulu. Tapi nilai sejarah di dalamnya tak akan tergantikan. Makanya, kini kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa dialihfungsikan menjadi situs sejarah. Apalagi banyak peninggalan Belanda di sekitarnya seperti Museum Bahari, Museum Fatahillah, maupun Museum Wayang.