Menyusuri Sejarah Kolonial di Hotel Pelangi

Heritage hotel dengan bangunan gaya kolonial. Dibangun pada 1860, kini masih megah berdiri di jantung kota Malang dan menjadi hotel favorit wisatawan asing.

Kota Malang tidak hanya menyimpan bangunan sejarah seperti gereja, masjid atau rumah tua. Hotel Pelangi pun menunjukkan keelokan dan kegagahan tempo dulu. Bahkan, sebelum perang kemerdekaan. Sempat berubah tiga kali nama, Hotel Pelangi kini tetap menjadi jujugan para bule Belanda.

Hotel Pelangi memiliki 75 kamar, menjadi lokasi favorit pilihan wisatawan, utamanya turis-turis asing. Lokasinya di Jalan Merdeka Selatan, tepat berada di depan alun-alun Kota Malang, sehingga hotel ini mudah diakses dari seluruh penjuru kota. Yang apik, bentuk asli dari bangunan hotel masih dipertahankan.


Perjalanan Panjang, Sejak 1860
Awalnya, di tanah tersebut berdiri sebuah hotel yang dibangun pada tahun 1860. Namanya Lapidoth Hotel. Sepuluh tahun kemudian, mengalami pergantian nama menjadi Hotel Malang. Ketika itu, gaya bangunannya masih belum seperti Hotel Pelangi sekarang. Masa itu, dibangun dengan gaya tradisional dan mirip pendopo.

Selanjutnya nama hotel ini berubah lagi menjadi Jensen Hotel, sekitar tahun 1900. Setelah pemiliknya meninggal, hotel ini kemudian dijual dan dihancurkan. Tahun 1916, pemerintah membangun lagi dengan nama Palace Hotel. Pada zaman pendudukan Jepang, tahun 1920, berubah nama menjadi Asoma Hotel.

Setelah perang kemerdekaan, kembali lagi menjadi nama Palace Hotel. Tepat tahun 1953, H. Sjachran Hoesin, seorang kontraktor asal Banjarmasin membeli hotel itu. Ia lalu merubah nama menjadi Pelangi Hotel hingga sekarang. Sekarang, hotel klasik yang tetap menjaga nilai sejarah itu dikelola oleh generasi kedua H. Sjachran Hoesin.

Pemerintah Kota Malang, menjadikan hotel ini sebagai ikon kota, bersama dengan bangunan tua lain, seperti Museum Brawijaya, rumah-rumah kuno Jalan Ijen dan Gereja Katedral Jalan Ijen. Menikmati suasana keindahan bangunan Belanda, sudah terlihat ketika masuk ke areal halaman.

Semua bangunan masih utuh, termasuk lukisan yang menggambarkan Malang sebagai kota heritage, tertempel di setiap sudut deretan kamar di sebelah barat dan timur. Semuanya masih bergaya bangunan klasik. Masuk ke area lobby hotel, pengunjung disambut dengan tulisan sejarah Hotel Pelangi dalam pigura.

Tamu hotel yang ingin mengetahui sejarahnya, pengelolanya sudah menyiapkan guide khusus. Mereka biasanya akan dibawa ke setiap ruang-ruang di dalamnya. Pengelolanya memperbolehkan tamu atau pengunjung yang datang untuk berswafoto ataupun sekadar mengabadikan bangunan tua sebagai objek foto.

Yang paling menarik, ketika pemandunya mengajak masuk di dalam area Lodji Coffee Shop. Sebagai hotel sekelas bintang dua, di pojok tengah bagian selatan coffee shop, terlihat balkon yang berdiri gagah. Sayangnya, hotel tersebut telah kehilangan dua menara bangunan yang sebelumnya merupakan ciri khas dari Hotel Palace, setelah terjadi aksi bumi hangus di Kota Malang tahun 1947.