Bekudo Bono di Teluk Meranti

Menurut tuturan masyarakat Teluk Meranti, bono merupakan hantu anjing laut yang menarik gelombang ke arah sungai Kampar. Karena Belanda saat itu tidak bisa masuk ke dalam muara sungai Kampar, pihak Belanda menembak gelombang ini dengan menggunakan meriam dan membunuh satu hantu.

Bono adalah fenomena alam gelombang tidal bore. Gelombang ini terbentuk  dari benturan arus laut dengan arus di muara sungai. Pada saat bulan purnama ataupun bulan baru, permukaan laut di Selat Malaka menjadi naik dan melahirkan gelombang pasang yang menyapu masuk ke dalam sungai Kampar sejauh 50 sampai 60 km.

Ketika sisi depan dari gelombang masuk ke muara sungai yang menyempit dan bertemu dengan perairan dangkal sungai Kampar, lahirlah gelombang yang dikenal dengan sebutan Bono. Ketinggian bono dapat mencapai 2 meter dan melaju ke arah hulu  selama kurang lebih 2 jam dan nantinya menghilang dengan sendirinya.


Legenda Hantu 7 Anjing Laut
Gelombang Bono dalam sudut pandang seni tutur dari masyarakat Teluk Meranti ada beberapa versi. Diantaranya ada yang bercerita bahwa bono merupakan hantu anjing laut yang menarik gelombang ke arah sungai Kampar.

Karena Belanda saat itu tidak bisa masuk ke dalam muara sungai Kampar, pihak Belanda menembak gelombang dengan menggunakan meriam. Akibatnya, satu gelombang bono mati dan jumlahnya beerkurang dari 7 menjadi 6.

Gelombang bono bisa dilihat di Kampung Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, provinsi Riau. Kampung ini berjarak lima jam dari Kota Pekanbaru dengan menggunakan moda transportasi darat. Gelombang yang ditakuti pada zaman dahulu sekarang menjadi salah satu destinasi selancar unggulan di Indonesia.  Pada tanggal 22 s.d 24 November 2018, berlangsung festival selancar yang bernama Festival Bekudo Bono. Bekudo merupakan dialog lokal yang berarti menunggang.


Festival Tahunan, Bekudo Bono
Festival Bekudo Bono merupakan event tahunan yang memikat puluhan surfer, tak hanya dari Indonesia tapi juga Australia hingga Amerika beradu kebolehan menari di atas gelombang Sungai Kampar. Satu hari sebelum event, peselancar, dewan juri, dan team lokal yang berada di Teluk Meranti melakukan survei jalur selancar.

Survei ini dilakukan hingga ke Tanjung Pebila. Sebuah tanjung yang  berada di belakang pulau Muda, tempat dimana gelombang bono masuk dari Selat Malaka. Jarak Tanjung Pebila ke Teluk Meranti satu jam 30 menit menggunakan speed boat. Disini, sungai Kampar sudah selebar kurang lebih 1.5 km.

Point selancar di gelombang bono dapat dimulai dari  Pulau Muda, Tanjung Pebila, Suak Tunggal,  Muara Sungai Serkap, tempat dimana seventh ghost bisa dilihat. Julukan Seventh ghost diberikan Rip Curl saat membuat film selancar di bono. Kemudian ke Block F,  Tanjung Sendok,  Teluk Rimba Putus, dan Teluk Meranti. Teluk Meranti adalah finish dari gelombang bono.

Selama kurang lebih dua jam para peselancar menari diatas gelombang. Tinggi gelombang pada saat survei kurang lebih 2 meter dengan lebar gelombang mengikuti sungai.  Perlombaan bekudo bono dibagi atas kelas professional dan lokal. Untuk lokal, mereka bermain di Teluk Rimba Putus yang berjarak kurang lebih 30 menit dari Teluk Meranti.

Peselancar professional biasanya beraksi di Tanjung Pebila, menyambut gelombang Bono yang mulau datang pukul 10.30.  Mereka turun ke sungai dengan diringi oleh jet ski dan rigid boat, dua moda trasportasi air ini berfungsi sebagai rescue. Tahun ini dua orang peselancar nasional diantaranya adalah Dede Suryana dan dua orang peselancar dari Australia diantaranya adalah Dylan Halad mempertunjukkan kebolehan mereka.

Satu setengah jam mereka silih berganti menari diatas gelombang. Sistem bermain di bono adalah drop in drop off. Tidak semua gelombang bisa dimainkan. Saat gelombang bagus, peselancar akan diantar ke gelombang, jika mereka jatuh, peselancar akan dijemput.

Di Teluk Rimba Putus, peselancar pro bergabung dengan peselancar lokal yang berjumlah 30 orang.  Anak- anak muda Teluk Meranti pun turut unjuk kebolehan menari diatas gelombang bono. Siapa yang menyangka, gelombang yang dahulu ditakuti, kini menjadi destinasi selancar unggulan di Indonesia.

Foto : Bayu Amde