Menikmati Borobudur, Memperkaya Lahir dan Batin

Borobudur selalu murah hati. Komplek candi Budha terbesar di dunia ini menyediakan segala yang kita butuhkan, untuk kekayaan pengetahuan, kedamaian jiwa bahkan kesehatan tubuh.

Hari masih sangat pagi, matahari pun baru mulai mengintip di cakrawala. Tapi ratusan orang sepagi itu telah bergegas menaiki tangga batu di Taman Kenari, Komplek Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Rombongan kemudian terbagi jadi dua kelompok, ada yang terus berjalan ke sisi timur candi dan sebagian tetap berada di Taman Kenari.

Kelompok yang tinggal di Taman Kenari mengenakan baju olahraga. Mereka mengikuti kegiatan yoga dan meditasi yang diasuh oleh Yudhi Widdyantoro & Romo Sudrijanta SJ. Selain olah tubuh, mereka merepih alam merasakan kesunyian dalam kedamaian Borobudur.


Detail Indah Dari Leluhur
Sementara mereka yang naik ke sisi timur Candi Borobudur membawa berbagai alat, dari tulis hingga kamera. Mereka terlihat serius mengabadikan jejak cerita relief candi dipandu oleh oleh Salim Lee, seorang peneliti yang membuat catatan ‘Ketenaran Nusantara di Mata Dunia, Kesaksian Karya Yi Jing di Abad ke-7’.

"Nenek moyang kita begitu detail dan indah dalam membuat bangunan Candi Borobudur, terlihat dari gaya bertuturnya di relief yang terpahat di batu candi," ujar Salim Lee menerangkan kepada ratusan peserta pelawat candi.

Menurutnya para pembuat Candi Borobudur ini menyampaikan pesan berharga, turun-temurun, puluhan generasi hingga ke para cucu. Mereka berkisah tentang hakikat hidup yang terjadi dari masa lampau hingga masa kini.

Aktivitas yoga, meditasi dan tour Candi Borobudur ini merupakan salah satu program yang digelar dalam Borobudur Writer and Cultural Festival. Event ini menjadi wahana pertemuan bagi para penulis baik fiksi maupun non fiksi, para pekerja kreatif, aktivis budaya dan keagamaan lintas iman untuk menemukan satu visi.

Tiap tahunnya BWCF menyajikan tema utama untuk mendorong peserta selalu menyadari kembali keunikan dan kekayaan berbagai pemikiran sastra, kesenian dan religi Nusantara. Mengunjungi, mengelilingi dan mempelajari Borobudur ini menjadi perjalanan untuk kembali mengakui keragaman, kekayaan, dan keunikan pemikiran dalam sastra, seni, dan agama di Indonesia.

Foto : Deva Nocturno