Monumen Nasional, Simbol Semangat yang Tak Pernah Padam

Monumen Nasional alias Monas, tugu landmark kota Jakarta ini mulai dibangun pada masa pemerintahan Soekarno, simbol dan penghormatan untuk semangat perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia yang tak pernah padam.

Tugu Monumen Nasional yang biasa disebut Monas memang fenomenal. Tugu Monas setinggi 132 meter, dengan lidah api pada bagian atasnya yang terbuat dari bahan emas seberat 38 kilogram ini, menggambarkan semangat perjuangan yang terus menyala.

Monas dibangun di areal seluas 80 hektar, diarsiteki oleh Frederich Silaban dan R. M. Soedarsono. Pembangunan dimulai pada 17 Agustus 1961 dan dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama selesai pada 1963, dilakukan pembangunan pondasi dengan 284 pasak beton dan 360 pasak bumi, dinding museum di dasar bangunan dan obelisk.

Pembangunan tahap kedua mulai 1966 hingga 1968, dan tahap ketiga 1969-1976 dengan menambahkan diorama di museum sejarah. Monumen diresmikan pada 12 Juli 1975 oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto dan mulai dibuka untuk umum. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur lapangan ini dipenuhi pengunjung yang berekreasi menikmati pemandangan Tugu Monas dan melakukan berbagai aktivitas dalam taman.


Simbol Lingga dan Yoni
Monumen Nasional adalah landmark sarat simbol dan makna. Tugu Monas dirancang dengan konsep pasangan universal yang abadi, yaitu Lingga dan Yoni. Tugu obelisk yang menjulang setinggi 117,7 meter sebagai lingga yang melambangkan laki-laki dan pada pelataran bawahnya yang berbentuk cawan setinggi 17 meter adalah Yoni yang melambangkan perempuan. Sehingga Lingga dan Yoni merupakan lambang kesuburan dan kesatuan harmonis yang saling melengkapi sejak masa prasejarah Indonesia.

Simbolisasi lain adalah perwujudan sebagai sepasang "alu" dan "Lesung", alat penumbuk padi pada rumah tangga petani tradisional Indonesia. Hal ini menunjukkan kekhasan budaya bangsa Indonesia.
Kolam berukuran 25 x 25 meter dirancang sebagai bagian dari sistem pendingin udara sekaligus mempercantik penampilan Taman Monas. Di dekat kolam dibangun air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kuda, terbuat dari perunggu seberat 8 ton. Patung yang dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato merupakan sumbangan dari Konsul Jenderal Kehormatan, Dr. Mario.

Pada tiap sudut halaman luar yang mengelilingi monumen terdapat relief yang menggambarkan sejarah Indonesia. Relief ini bermula di sudut timur laut, searah jarum jam menuju sudut tenggara, barat daya, dan barat laut, dimulai dari kejayaan Nusantara, penjajahan hingga mencapai masa pembangunan Indonesia modern.

Di bagian dasar monumen, pada 3 meter di bawah permukaan tanah, terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia. Ruang besar museum sejarah dilengkapi dengan 51 diorama yang menampilkan sejarah Indonesia sejak masa pra sejarah hingga masa Orde Baru. Di gedung berbentuk cawan terdapat Ruang Kemerdekaan berbentuk amphitheater. Ruangan ini juga menyimpan simbol kenegaraan dan kemerdekaan Republik Indonesia, diantaranya naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Lambang Negara, Peta Negara dan lainnya.

Untuk menuju ke puncak monas, sebuah elevator (lift) berkapasitas 11 orang, akan membawa pengunjung menuju pelataran puncak Monas yang berukuran 11 x 11 meter di ketinggian 115 meter dari permukaan tanah.


Naskah Asli Proklamasi
Salah satu dokumen penting yang tersimpan di Museum Sejarah Nasional ini adalah naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Naskah asli Proklamasi Indonesia disimpan dalam kotak kaca dalam pintu gerbang berlapis emas.

Pintu yang menyimpan kotak pun dibuat dengan sistem mekanis dari perunggu seberat 4 ton berlapis emas dihiasi ukiran bunga Wijaya Kusuma yang melambangkan keabadian, serta bunga Teratai yang melambangkan kesucian. Pintu ini terletak di sisi barat tepat di tengah ruangan dan berlapis marmer hitam. Pintu yang dikenal dengan nama Gerbang Kemerdekaan secara mekanis akan membuka seraya memperdengarkan lagu "Padamu Negeri" diikuti rekaman suara Sukarno tengah membacakan naskah proklamasi pada 17 Agustus 1945.


Lidah Api 38 Kilogram Emas
Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang nyala lampu perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 kilogram. Lidah api setinggi 14 meter ini menjadi simbol semangat perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan. Awalnya nyala api perunggu dilapis lembaran emas seberat 35 kilogram, akan tetapi untuk menyambut perayaan setengah abad (50 Tahun) Kemerdekaan Indonesia pada 1995, lembaran emas dilapis ulang sehingga beratnya mencapai 50 kilogram lembaran emas.

Puncak tugu berupa "Api Nan Tak Kunjung Padam" bermakna agar Bangsa Indonesia senantiasa memiliki semangat yang menyala-nyala dalam berjuang dan tidak pernah surut atau padam sepanjang masa. Dirgahayu Indonesia!