Mengintip Misteri Konstruksi dan Relief Candi di Museum Borobudur

Museum ini menyimpan rahasia Borobudur yang hingga kini menjadi misteri. Dari kunci penggeser batu-batu candi, hingga relief yang terakhir terpasang di candi pada 1935.

Jalan-jalan ke Candi Borobudur memang bisia sangat melelahkan. Kompleks Candi Borobudur terhitung sangat luas. Dari loket hingga menuju gerbang candi jaraknya cukup jauh. Belum lagi menaiki 2.033 batu pijakan yang tersebar di empat titik: Barat, Timur, Selatan dan Utara hingga ke Stupa. Kaki pegal, punggung pun bisa basah keringat saat hari cerah.

Tapi, jangan buru-buru pulang sesudah keliling candi. Borobudur memiliki tiga tempat lain yang juga menarik untuk dikunjungi Percaya atau tidak, tiga tempat ini menyimpan rahasia Borobudur yang hingga kini masih menjadi misteri.


Museum Borobudur
Museum Candi Borobudur terletak di dekat jalan keluar menuju ke pasar. Masuk ke museum, wisatawan bakal disambut musik karawitan dengan nyanyian sinden yang mampu mendinginkan kepala. Sebelum masuk, wistawan wajib mengisi buku tamu lebih dulu.

Ada dua ruangan dalam museum ini, pertama adalah ruang teknis arkeologi yang menyimpan foto, bebatuan yang terlepas karena jamur, atau kadar garam dalam batu Candi.

Bagi wisatawan yang ingin tahu rahasia sistem penguncian dalam penyusunan batu-batu candi, di ruang ini tempatnya. Pengunci batu bentuknya seperti dasi kupu-kupu yang diletakkan di bagian dasar stupa candi. Jika kunci itu diambil, batu-batu lainnya bisa digeser. Tersimpan juga patung kepala Buddha raksasa. Patung berwarna kuning itu ditemukan di Selomerto, Wonosobo, dibawa ke museum pada 1985.

Ruang kedua bernama Karmawibhangga. Di sinilah rahasia besar Candi Borobudur. Ada patung Buddha yang belum selesai dibuat. Wisatawan juga bisa menyaksikan relief terdalam candi yang berkisah tentang Karma dalam kepercayaan Buddha.

Dari total 160 panel relief hanya disisakan empat panel yang bisa dilihat, yang paling mencengangkan adalah relief ini terakhir dibuka untuk umum di Candi pada 1935. Belum ada jawaban pasti mengapa relief itu tidak lagi ditaruh di Candi.

Selain rahasia itu wisatawan juga bisa bersantai di museum ini dengan mendengarkan karawitan atau pijat refleksi ikan. Harganya juga cukup murah, hanya Rp5 ribu per jam, ikan-ikan kecil dalam baskom yang bisa dipakai satu keluarga akan memijat telapak kaki dengan nyaman. Menggali banyak pengetahuan baru, sekaligus mendinginkan tubuh, capek pun hilang.


Museum MURI
Museum Galeri Unik dan Seni Borobudur Indonesia (GUSBI) berada di sisi belakang Candi Borobudur, berdekatan dengan Museum Candi. Museum ini di luar tata kelola pihak Taman Wisata Candi Borobudur meski lokasinya dalam kompleks candi. Wisatawan harus membayar tiket masuk terpisah seharga Rp5 ribu agar bisa masuk.

Sesuai namanya, banyak barang antik nan unik dalam museum. Ada patung Buddha berukuran mini yang harus dilihat dengan kaca pembesar, Patung Budhha berwajah Gus Dur, Dekonstruksi lukisan Monalisa, buku-buku peninggalan Belanda, replika keris raksasa Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX, dan berbagai macam catatan rekor MURI.

Ada tiga rekor yang belum terpecahkan hingga saat ini, yaitu jas terbesar dan terberat (100 Kg), patung raksasa mempelai, dan skripsi terbesar di Indonesia. Wisatawan juga bisa berfoto dengan orang terpendek di Indonesia yang bernama Islahudin. Sayangnya, tampilan museum ini tampak begitu jadul dan kuno. Museum MURI buka setiap hari dan beroperasi sampai pukul 16.00 WIB.