Tato, Identitas dan Pancaran Roh Orang Mentawai

Tidak semata tatahan dari arang yang ditusukkan ke lapisan kulit. Tato, yang di Mentawai disebut titi atau tiktik, merupakan identitas. Pada tato tertera tanah asal, status sosial, hingga kehebatan seorang pemburu.

Arang dari kayu atau bekas pembakaran yang dihaluskan, dicampur dengan cairan perasan tebu, kemudian dengan duri atau jarum, arang yang dicampur perasan tebu itu ditusukkan ke lapisan kulit, membentuk motif-motif yang beragam. Pada mata kaki, jari, dada rusuk, leher, hingga ke pipi laki-laki dan perempuan Mentawai.  

Menurut catatan peneliti tato, Ady Rosa, tato di Mentawai adalah identitas yang membedakan antara klan satu dengan lainnya dan yang lebih utama, ia adalah pancaran roh dari kehidupan mereka.

Tertua di Dunia, Mendahului Tato Mesir

Di pedalaman Siberut, masyarakat yang masih berpegang teguh pada adat dan ajaran yang disebut Arat Sabulungan ini, tato adalah identitas yang tidak boleh lepas dari kehidupan orang Mentawai. Walau telah jarang ditemui, masyarakat Siberut masih menato tubuhnya hingga sekarang.

“Saya ini berasal dari dusun Butui, tatonya seperti ini,” kata Aman Koddai yang baru beberapa tahun dinobatkan jadi sikerei. Sikerei adalah sebutan untuk dukun, penjinak bisa, pimpinan uma,  atau rumah adat di Pedalaman Siberut yang bersifat komunal dan besar.

Aman Kodday, sikerei muda dari Dusun Butui Pulau Siberut ini melihatkan gambar semburat cahaya matahari pada tubuhnya, juga garis-garis berwarna biru tua yang menempel di jangatnya. Tato yang menempel di tubuh Aman Koddai, dianggap oleh beberapa antropolog sebagai tato tertua di dunia.

Ia mendahului tato Mesir yang telah ada pada tahun 1.300 SM. Tato Mentawai adalah keseimbangan hidup, dimana dalam keyakinan mereka, yang ada di jagad raya semua memiliki roh. Maka tak heran, bentuk tumbuhan dan hewan abadi di tubuh mereka. Seorang pemburu, akan menatokan hasil buruan mereka di tubuhnya. Mulai dari babi, bilou atau monyet endemik Mentawai, hingga rusa dan penyu.

Walau mengalami penggerusan yang cukup serius, tato di Mentawai masih bertahan sebagai tato tertua di dunia yang masih diwariskan secara turun temurun.

 

Foto : Fatris MH