Omo Sebua dan Omo Hada, Rumah Adat Nias yang Tahan Gempa

Rumah tradisional ini pun didesain khusus untuk melindungi penghuni dari serangan saat terjadinya perang suku. Jalur masuknya hanya tangga kecil yang dilengkapi pintu jebakan. Selain itu, atapnya juga sangat curam.

Bencana memang bisa datang kapan saja, baik itu bencana yang disebabkan alam maupun yang merupakan hasil tangan manusia. Kedatangannya yang tak terduga bisa berakibat fatal, salah satunya bisa mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang.

Tapi, kita bisa melakukan persiapan untuk menghadapi bencana dan meminimalisir efek yang diakibatkannya. Hal inilah yang dilakukan oleh warga Suku Nias sejak ribuan tahun yang lalu. Untuk menghalau gempa, warga sengaja membangun hunian tradisional yang kuat dan kokoh untuk melindungi penghuninya. Selain itu, rumah ini pun bisa melindungi penghuninya dari serangan musuh, lho.

Berbeda sesuai daerah dan status sosial

Bagi warga Nias, ada dua jenis rumah adat, yaitu Omo Sebua dan Omo Hada. Bedanya, Omo Sebua hanya dihuni oleh kepala negeri, kepala desa, dan kaum bangsawan saja. Sementara Omo Hada dibuat untuk masyarakat umum.

Untuk bentuknya, rumah ini seperti rumah panggung yang dibangun di atas tiang-tiang kayu tinggi besar. Tapi ada perbedaan bentuk antara rumah adat yang dibangun di Nias Utara, Nias Selatan, dan Nias Tengah.

Rumah tradisional yang ada di Nias Utara memiliki perbedaan di bagian atap lotengnya yang lebar dan kisi-kisi jendela yang besar, sehingga memungkinkan penghuninya mendapat penerangan dan sirkulasi udara yang maksimal. Pastinya rumah terasa terang dan sejuk.

Pilar-pilar untuk menopang rumah tak didirikan di atas tanah, tapi di atas pondasi batu supaya kayunya lebih tahan lama. Lantai utamanya dibagi menjadi ruang pertemuan dan kamar tidur, sementara dapur dan kamar mandi ada di belakang rumah. Di dalam rumah sederhana itu, hanya ada sedikit perabotan. Barang-barang pun biasanya dimasukkan ke dalam peti atau lemari.

Untuk Nias Selatan, biasanya rumah dibangun dengan sistem kompleks pemukiman. Di mana ada ratusan tempat tinggal yang dibangun di kedua sisi jalan. Pemukimannya dibuat menjulang, sehingga mengharuskan penghuni atau tamunya harus menaiki tangga batu yang cukup panjang.

Dulu, warga membangun parit yang dalam di belakang pagar bambu runcing, untuk memberi perlindungan atas serangan musuh. Di baliknya, ada halaman yang luas, dan di depannya diletakkan oli batu yang merupakan lambang kedudukan sang pemilik rumah.

Sementara di Nias Tengah, bangunannya merupakan perpaduan antara Nias Utara dan Selatan. Hal ini dikarenakan penduduknya merupakan penghuni asli sebelum akhirnya berpisah ke wilayah utara dan selatan.

Tahan gempa dan serangan musuh

Meskipun tradisional, namun Omo Hada dan Omo Sebua milik Suku Nias dapat memberi perlindungan maksimal untuk penghuninya.

Rumah panggung ini dibangun di atas tiang-tiang kayu nibung (Oncosperma tigillarium), yang tinggi besar dan beralaskan rumbia (Metroxylon sagu). Tiang-tiang tersebut tak tertanam ke tanah, dan sambungan antar kerangkanya tak memakai paku, melainkan menggunakan pasak, sehingga membuatnya tahan terhadap guncangan gempa bumi.

Selain itu, tiang penyangga tak disusun dalam arah yang beraturan. Ada yang ke arah atas, bawah, dan samping. Cara ini membuat rumah ini semakin kokoh. Warga juga biasa memberi dekorasi berbentuk binatang untuk memberi perlindungan bagi penghuni rumah.

Rumah tradisional ini pun didesain khusus untuk melindungi penghuni dari serangan saat terjadinya perang suku. Jalur masuknya hanya tangga kecil yang dilengkapi pintu jebakan. Selain itu, atapnya juga sangat curam.

Bagi wisatawan yang ingin melihat langsung keunikan rumah tradisional ini, bisa berkunjung ke Desa Tumori di Kecamatan Gunungsitoli Barat, atau Desa Bawomataluo di Nias Selatan. Di dua desa itulah, kita bisa melihat rumah adat Suku Nias yang masih terjaga keasliannya.