Mengunjungi Peninggalan Zaman Megalitikum di Desa Bawomataluo

Bawomataluo dalam bahasa Nias artinya bukit matahari. Disebut begitu untuk menggambarkan letak desa yang ada di ketinggian 400 meter di atas bukit.

Di Nias, ada sebuah desa adat dan budaya yang diperkirakan sudah berusia 300 tahun, dan menjadi salah satu warisan budaya dunia.  Itulah Desa Bawomataluo, desa kuno yang memiliki banyak atraksi budaya seperti relik megalitik, rumah tradisional, tradisi lompat batu, dan masih banyak lagi. Desa ini berada di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan. Kurang lebih 12 km dari Teluk Dalam, Ibu Kota Kabupaten Nias Selatan. Perjalanan darat yang dibutuhkan sekitar 40 menit.

Dipenuhi peninggalan zaman megalitikum

Desa Bawomataluo memiliki kontur bebatuan. Desa ini dibangun pada zaman megalitikum, dan terdapat banyak peninggalan kuno yang terbuat dari batu, seperti tangga batu dan tempat duduk raja.

Pertama yang akan kita lihat adalah tangga batu berjumlah 77 anak tangga. Dulunya berjumlah 80 buah anak tangga, namun berkurang lantaran dilanda longsor. Untuk menuju desa yang ada di atas bukit ini, kita harus menaiki tangga batu itu terlebih dahulu.

Begitu menginjakkan kaki di desa tua ini, kita akan disambut dengan keindahan panorama alam khas Bawomataluo. Letak desa yang ada di ketinggian membuat pengunjung bisa melemparkan pandangan ke lanskap alam di bawahnya, yakni Perkampungan Orahili, Pantai Sorake, serta Teluk Lagundri.

Setelah puas memandangi panorama cantik yang ada di kaki bukit dan sekitarnya, kita bisa mengunjungi 137 unit rumah adat Nias yang masih terjaga keasliannya. Rumah-rumah tersebut disebut Omo Hada, sedangkan rumah adat besar untuk rumah para raja disebut Omo Sebua atau Omo Ruyu. Atapnya tinggi menjulang, sedangkan di kanan dan kiri bangunannya terdapat balai desa atau Omo Bale.

Di depan Omo Sebua yang kini dihuni Raja Nias generasi keempat itu, terlihat tempat duduk raja yang dibuat dari batu. Warnanya hitam dan panjangnya mencapai 10 m. Di sana pun ada balai musyawarah yang tempat duduknya juga terbuat dari batu.

Tradisi Lompat Batu

Tak hanya bisa melihat keunikan rumah adat Nias dan berbagai peninggalan kuno, kita pun bisa melihat batu setinggi 2,15 meter yang menjadi tempat untuk melakukan tradisi lompat batu atau fahombo batu. Atraksi lompat batu ini telah lama dikenal sebagai identitas masyarakat Nias.

Tradisi fahombo batu merupakan ajang ketangkasan yang hanya boleh diikuti oleh kaum lelaki. Barang siapa yang mampu melompati batu dengan gagahnya, akan dianggap sebagai pria dewasa yang tangkas dan kuat.

Karena batu yang harus dilompati sangat tinggi, maka tak sedikit yang gagal saat melakukan tradisi ini meski telah berlatih dalam waktu lama. Jika ada pemuda yang berhasil, maka ia dan keluarganya akan merayakan syukuran adat di sana. Kalau sedang berkunjung ke desa ini, sempatkan diri untuk melihat atraksi lompat batu yang sangat tersohor ini, ya. Biasanya, atraksi akan berlangsung setiap hari Sabtu.

Untuk berkunjung ke Desa Bawomataluo, kita tak akan dipungut biaya. Namun, kita harus melapor terlebih dahulu kepada ketua adat setempat. Selain itu, sebaiknya gunakan pakaian yang sopan untuk menghormati warga desa di sana.