Cuci Parigi Pusaka Lonthoir, Ritual Syukur Rakyat Banda

Tradisi 10 tahunan, menguras sumber air yang disucikan. Berpusat di Negeri Lonthoir, Banda Besar. Diikuti ribuan warga yang tinggal di Banda dan pemudik, warga Banda di perantauan. Tradisi mudik saat Cuci Parigi ini bahkan lebih besar daripada saat mudik Lebaran.

Sejak pukul 06.00 WIT, warga memadati Pelabuhan Rakyat Neira. Belasan motor tempel bergantian mengantarkan warga dari Banda Neira, Ibukota Kecamatan Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. Tujuannya, desa tertua di kepulauan ini, yakni Negeri Lonthoir di Pulau Banda Besar. Hari ini ada perhelatan tradisi 10 tahunan, prosesi adat Cuci Parigi (mencuci sumur) atau mensucikan sumur.

Bagi masyarakat di Kepulauan Banda, Cuci Parigi merupakan tradisi terpenting, sehingga walaupun mereka berada di perantauan, banyak yang bela-belain pulang dari perantauan hanya untuk mengikuti rangkaian tradisi yang juga mengandung nuansa magis ini. Banyaknya warga Banda pulang dari perantauan ini, bahkan melebihi jumlah mereka yang mudik untuk berlebaran.

Tidak mengherankan, sejak pagi, belasan perahu motor hilir mudik mengantar warga ke Negeri Lonthoir. Diperkirakan sedikitnya puluhan ribu orang memadati Negeri Lonthoir untuk mengikuti ritual adat yang menjadi acara puncak Pesta Rakyat Banda 2018 ini.


Sumur Yang Disucikan
Cuci parigi dikenal masyarakat setempat dengan istilah Rofaerwar. Ritual utama cuci parigi ini adalah membersihkan dua buah sumur kembar yang berusia ratusan tahun di Desa Lonthoir, yang berada pada ketinggian 300 meter di atas permukaan laut, dengan kedalaman sekitar empat meter.

Prosesi Cuci Parigi Pusaka Lonthoir ini, konon mengingatkan warga setempat akan penyebaran agama Islam di Negeri Lonthoir. Kala itu, sejumlah ulama penyebar agama Islam dari Timur Tengah sedang berada di daerah tersebut dan mencari air wudhu ketika akan menunaikan shalat. Tiba-tiba seekor kucing muncul dari semak-semak. Dari lokasi kucing itu muncul, ternyata ada sumber mata air, yang kemudian menjadi parigi pusaka ini.

Bagi kebanyakan orang, letak sumur pada posisi ketinggian seperti itu, sebenarnya mustahil  terdapat sumber air yang melimpah, apalagi hanya dengan kedalaman empat meter. Tapi itulah keajaiban dan magis yang ada. Sumur kembar ini juga tidak kering saat musim kemarau tiba.

Mengawali seluruh proses Cuci Parigi Pusaka ini, ada 99 lelaki mengarak belang (perahu) darat diiringi tarian cakalele dari rumah adat Lonthoir menuju Parigi Pusaka. Dari mereka, ada 81 orang yang kemudian menjadi pasukan utama untuk membersihkan parigi. Jumlahnya 81 orang, karena ada sembilan anak tangga, dengan perhitungan setiap anak tangga ditempati sembilan orang.

Begitu Gubernur Maluku Said Assagaff membuka secara resmi prosesi cuci parigi, para lelaki yang mengenakan kain ikat kepala berwarna kuning lantas masuk ke salah satu sumur. Sementara sumur di sebelahnya yang berusia lebih tua, tetap tertutupi bentangan kain berwarna putih.

Diiringi tembang kabata (nyanyian dengan bahasa tanah atau adat) para lelaki tadi langsung membersihkan air di dalam parigi itu. Irama tifa, menambah semangat saat mereka menguras sumur dengan cara menimba airnya dengan ember, lalu secara estafet dikeluarkan dari dalam sumur.

Proses membuang air dari dalam parigi berlangsung sekira 2 jam. Di tengah proses mengosongkan air dari dalam sumir ini, puluhan lelaki dan wanita penari cakalele asal Negeri Kampung Baru, yang punya ikatan kekerabatan gandong atau adik dengan Negeri Lonthoir, masuk ke areal parigi. Mereka juga ikut bersama cuci parigi pusaka ini.

Sesekali, air yang diangkat dari dalam sumur itu, dihempaskan ke arah kerumunan warga. Bahkan sejumlah orang sengaja menyiram dan menggosok wajah dan bagian tubuh warga dengan air bercampur lumpur serta tanah dari dalam perigi itu. Meski disiram dengan air kotor dan tanah lumpur namun warga tidak merasa gatal. Sejumlah warga malah berebutan air kotor dari dalam parigi itu untuk sekedar dibawa pulang dan menyiram tubuh mereka, sebab diyakini akan mendapat berkah dari air parigi pusaka tersebut.

Setelah air di dalam parigi pusaka benar-benar kering, pasukan cakaleke lantas menuju rumah adat untuk menjemput Kain Gajah. Kain dengan panjang 99 depa itu diantar warga dengan diringi tetabuhan tifa serta nyanyian kabata, menuju lokasi Parigi Pusaka. Kain gajah berwarnah putih itu kemudian dimasukan ke dalam parigi pusaka dan digunakan untuk menyerap air di dalam parigi hingga kering.

Selama proses membersihan air lumpur dan becek dengan kain gajah hingga kering, sejumlah orang membawakan tarian Siamali Negeri Lonthoir. Mereka melantungkan kabata, bahasa tanah. Setelah bersih, kain gajah kemudian ditarik dan dibawa ribuan kaum perempuan menuju pantai Negeri Lonthoir dengan cara dipikul.

Para perempuan pembawa kain gajah ini tidak mengenakan alas kaki. Selama perjalanan menuju pantai, untuk membersihkan Kain Gajah, mereka terus melantunkan kabata, hingga kembali ke Masjid Negeri Lonthoir untuk membilas kainnya sebelum dikembalikan ke rumah adat. Agar air kembali memenuhi Parigi Pusaka, prosesi ini dilangsungkan saat air laut surut, dengan begitu ketika air laut pasang, Parigi Pusaka kembali terisi oleh air.

Foto : Embong Salampessy