Pala, Rempah Asli Indonesia yang Diperebutkan Banyak Negara

Kalau membaca atau mendengarkan kisah-kisah penjajahan yang pernah terjadi di Indonesia, rempah pala pasti selalu disebut. Saking populernya rempah, beberapa negara bahkan sampai berusaha untuk merebut dan menguasai negeri ini.

Pala atau Myristica fragrans adalah tumbuhan yang berasal dari Kepulauan Banda, Maluku. Bisa dibilang, pala adalah jiwa, sumber perekonomian, dan catatan sejarah dari Kepulauan Banda. Sebab, selama berabad-abad, tanaman ini hanya tumbuh di sana, baru kemudian dikirim ke berbagai belahan dunia.

Buah pala sendiri berbentuk bulat lonjong, berdaging buah, dan beraroma khas, karena mengandung minyak atsiri. Biasanya, kalau buahnya telah masak, kulit dan daging buahnya akan terbuka, memperlihatkan bijinya yang berwarna merah darah.

Setelah dipanen, buahnya bisa dimakan dan bijinya dijemur dan dipisahkan dari kulitnya. Pengeringan ini memakan waktu hingga delapan minggu, hingga cangkang biji akan pecah dengan sendirinya. Biji inilah yang kemudian dijual sebagai rempah-rempah.


Punya segudang manfaat
Lantas, apa yang membuat pala menjadi incara para penjajah kala itu? Ternyata bijinya mengandung banyak zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia. Misalnya Atsiri, Saponin, Enzim Lipase, hingga Pektin. Buah pala juga dapat mengobati penyakit susah tidur, masuk angin, rematik, serta melancarkan pencernaan dan meringankan nyeri haid. Bahkan dulu ada dokter di Eropa yang menemukan fakta bahwa pala berkhasiat sebagai obat radang paru-paru.

Karena aneka manfaat itulah, buah pala dulu dijual dengan harga yang sangat mahal di Eropa. Mereka pun saling berlomba-lomba untuk menemukan tanaman ajaib ini. Bangsa Portugis, Inggris, dan Belanda pun berdatangan ke Kepulauan Banda untuk memperebutkan pala. Harga buah pala sangat mahal. Di abad ke-14, 1 pon pala di Jerman dihargai setara dengan 7 sapi jantan dewasa gemuk. Luar biasa!

Tak hanya bangsa Eropa yang tergila-gila akan buah pala. Bangsa Arab pun memburunya. Bahkan dokter Persia, Ibnu Sina, pernah menuliskan buah yang disebutnya sebagai jansi ban atau kacang dari Banda itu.


Mengakibatkan Pertumpahan Darah
Karena menggilai pala, berbagai bangsa berbondong-bondong menuju Maluku. Di tahun 1511, Alfonso de Albuquerque menyerang pulau-pulau di Maluku dan membangun benteng untuk memonopoli pala.

Pada tahun 1605, Belanda berhasil menyusul dan menyingkirkan Portugis yang telah menaklukan Ambon. Mereka pun mendirikan perusahaan dagang bernama VOC untuk memonopoli perdagangan pala dan bunga pala. Mereka memaksa warga untuk menjual pala hanya kepada VOC. Namun warga masih berusaha menjualnya kepada pedagang Jawa, Makassar, dan Inggris. Akibatnya, peperangan pun terjadi.


Kini diolah menjadi berbagai produk
Sekarang, buah pala memang tak lagi dianggap sebagai primadona. Namun, buah pala tetap dimanfaatkan banyak ibu rumah tangga dan juru masak, terutama di Nusantara.

Selain itu, buah pala telah diolah menjadi aneka produk. Minyak pala yang diperoleh dari penyulingan biji pala muda dimanfaatkan sebagai bahan baku industri obat-obatan, sabun, parfun, dan kosmetik.

Biji pala pun bisa diolah menjadi mentega pala yang bisa dimanfaatkan sebagai minyak makan dan industri kosmetik. Di dalam negeri, daging buah pala mulai dimanfaatkan dijadikan manisan, asinan, hingga sirup.

Bagaimana, tertarik untuk mencoba salah satu olahan buah yang jadi primadona di masa penjajahan dulu ini?