Kota Tua Jakarta, Modern di Masa Kolonial

Kota Tua Jakarta menjadi saksi geliat peradaban dan pertumbuhan Jakarta dari masa ke masa, sejak masa masa kolonial. Kawasan yang dulunya menjadi pusat perdagangan, kini masih kokoh berdiri di tengah metropolitan.

Menyusuri Kota Tua Jakarta, serasa perjalanan ke kota masa kolonial di masa lalu yang megah. Bangunan-bangunan yang dibangun pada masa penjajahan Belanda sejak tahun 1600-an, masih terlihat kokoh, apik dan artistik. 
Ada beberapa lokasi yang bisa dikunjungi di wilayah Kota Tua Jakarta, diantaranya Pelabuhan Sunda Kelapa, Stasiun Jakarta Kota. Berbagai museum dengan koleksi sarat sejarah juga banyak di kawasan Kota Tua Jakarta. Seperti Museum Fatahillah, Museum seni Rupa dan Keramik, Museum Bank Indonesia, Museum Bahari dan masih banyak lagi. 
 
 
Sejarah Kota Tua Jakarta
Kota Tua Jakarta mulai dibangun sekitar 1620 oleh VOC pada masa kepemimpinan Jan Pieterszoon Coen. Jakarta yang dahulu bernama Batavia, dibangun kembali setelah dihancurkan oleh serangan Pangeran Jayakarta dari kerajaan Demak. Kota Batavia dirancang dengan gaya Eropa yang dipisahkan oleh sebuah kanal dengan beberapa blok di sekitar kanal. Kota Batavia selesai dibangun pada tahun 1650 dan difungsikan sebagai kantor pusat VOC di Hindia Timur.
 
Pada 1972, Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, mengeluarkan keputusan resmi yang menjadikan kawasan Kota Tua Jakarta sebagai situs warisan sejarah, tujuannya agar sejarah arsitektur dan bangunan yang masih tersisa terlindungi dengan baik.
 
 
Pusat Perdagangan
Kota Tua Jakarta pada masa VOC dan Belanda, merupakan pusat pemerintah sekaligus perdagangan yang penting. Untuk perdagangan berpusat di Pelabuhan Sunda Kelapa, yang sampai sekarang masih dipakai sebagai pelabuhan untuk kapal-kapal tradisional. 
Keberadaan Pelabuhan ini menjadi salah satu tonggak sejarah penting bagi kota Jakarta. Karena di tempat inilah awal mula kota Jakarta dikenal luas oleh dunia. Para pedagang dari luar negeri seperti Arab, Persia, India melakukan perdagangan melalui Pelabuhan Sunda Kelapa. 
 
Berwisata ke Pelabuhan Sunda Kelapa sambil melihat aktivitas perdagangan melalui laut dengan kapal-kapal tradisional tentu sangat menarik. Menyusuri bagaimana geliat ekonomi Batavia pada masa lampau. Dan kini, masih aktif sebagai perlintasan perdagangan laut kapal-kapal tradisional mengirimkan berbagai bahan kebutuhan pokok antar pulau di Indonesia. 
Bentuk kapal tradisional yang khas dengan layar yang lebar, yang biasa disebut dengan kapal phinisi, terlihat sangat indah untuk koleksi atau latar belakang foto. Lokasi ini biasa menjadi tempat fotografer berburu foto menarik hingga para pengantin melakukan pemotretan pre-wedding.
 
 
Berkeliling Kota Tua Gaya Kolonial
Walau Kota Tua Jakarta lalu lintasnya selalu dalam kondisi macet, tapi tidak mengurangi pengunjung yang datang ke tempat ini. Ada banyak transportasi lama yang masih tetap dipertahankan di wilayah ini. Ada Bajaj dan ojek sepeda yang siap mengantarkan wisatawan berkeliling Kota Tua. 
 
Sepeda merupakan cara paling spesial menikmati kawasan Kota Tua Jakarta. Ada banyak sepeda yang tersedia, disewakan untung pengunjung. Uniknya, sepeda-sepeda yang ada di Kota Tua Jakarta dipertahankan seperti sepeda kuno, atau orang biasa menyebutnya sepeda Kebo. Cukup mengeluarkan ongkos 35 ribu, para pengojek sepeda siap mengantarkan berkeliling Kota Tua Jakarta.
 
 
Revitalisasi Kali Besar
Tak hanya arsitek bangunan lama dan suasana klasik yang bisa dinikmati di kawasan Kota Tua Jakarta. Kini, Pemerintah Jakarta juga mengembangkan wisata budaya dengan membangun kawasan Kali Besar yang ada di sepanjang belakang Museum Fatahilah menjadi Kali Budaya. 
Kali yang dulunya kotor dan kumuh, sejak 2017 lalu telah direvitalisasi menjadi lokasi yang nyaman buat wisata keluarga yang murah meriah. Tempat ini ditata rapi di kanan kiri jalan untuk pejalan kaki dengan dilengkapi taman dan tempat duduk. Berada di tempat ini serasa berada di Batavia atau Jakarta tempo dulu. Kali bersih, dikelilingi pemandangan bangunan lawas Kota Tua Jakarta, pas untuk menghabiskan sore.