Talun, Kulit Kayu Bahan Pakaian Dayak

Suku Dayak Lundayeh dikenal dengan keterampilannya mengolah kulit kayu menjadi busana seperti baju, rok, topi dan kain selonjoran. Seluruh proses dilakukan secara manual dengan bahan, termasuk pewarna, dari alam.

Berbeda dengan suku lain yang membuat busana model tenun, suku Dayak mengandalkan pakaian dan kainnya menggunakan bahan kulit kayu, daun, atau bahan lainnya yang ada di dalam hutan. Busana yang mereka pakai terbuat dari kulit kayu atau yang disebut dengan talun, menjadi busana asli khas masyarakat suku Dayak pada zaman sebelumnya.


Bahan Alami dari Hutan
Suku Dayak adalah nama yang diberikan kepada penghuni pedalaman pulau Borneo, sekarang Pulau Kalimantan. Tak hanya di Indonesia, tapi juga termasuk Brunei, Malaysia yang terdiri dari Sabah dan Sarawak. Budaya masyarakat Dayak adalah budaya maritim atau bahari, sehingga hampir semua nama sebutan orang Dayak mempunyai arti sebagai sesuatu yang berhubungan dengan "perhuluan" atau sungai, terutama pada nama-nama rumpun dan nama kekeluargaannya.

Kata Dayak juga berasal dari kata daya, yang dalam bahasa Kenyah berarti hulu sungai atau pedalaman. Orang Dayak sangat menghormati warisan nenek moyangnya termasuk menjaga warisan budaya. Sejak dahulu kala orang dayak telah memiliki beragam bentuk kesenian baik itu seni tari, sastra, nyanyian, kerajinan tangan, ukiran, dan lainnya. Semuanya budaya itu sangat erat dengan kehidupan alam sekitarnya.

Masyarakat suku Dayak juga tergolong sangat kreatif dengan dinamika kehidupan yang begitu kompleks. Budaya dan tradisi yang diwariskan nenek moyangnya baik norma-norma dan nilai luhur dipegang secara ketat dan menjadi dasar kuat. Salah satu budaya yang masih diterapkan di beberapa suku Dayak adalah pengolahan kulit kayu menjadi berbagai barang kerajinan, terutama pakaian yang biasanya dipakai untuk upacara adat. Salah satunya adalah pengolahan kulit kayu Talun, yang menjadi bahan dasar pakaian adat tradisional mereka.


Metode Pengasapan
Masyarakat adat Dayak sangat terampil dalam mengolah apa yang ada di dalam hutan menjadi berbagai benda yang dimanfaatkan untuk keperluan mereka. Baik sandang, pangan dan papan hingga kini menjadi budaya yang diturunkan dan masih terjaga.

Pengolahan Kulit Talun, dilakukan dari sejak berburu kulit di hutan. Memotong, memproses hingga menjadi sebuah baju atau penutup bagian tubuh, memerlukan kesabaran tingkat tinggi. Proses pembuatan yang membutuhkan kesabaran, ketekunan dan ketelitian untuk membuat kulit kayu  menjadi sebuah baju merupakan proses budaya yang tinggi.

Langkah- langkah untuk membuat kulit kayu talun menjadi baju, kain selonjor atau topi,adalah, kulit kayu talun yang diambil dari hutan dan sudah dikupas dari batangnya, kemudian dipukul-pukul menggunakan kayu supaya terpisah dari lapisan kulit luar. Kemudian dikikis atau dibersikan kulitnya. Lalu dicuci sampai bersih dan dijemur atau diasapi.

Setelah diyakini kering, lembaran itu dipipil-pipil atau ditarik supaya melebar. Lalu diwarnai dengan pewarna yang didapatkan dari tumbuh-tumbuhan di hutan. Setelah warna yang dikehendaki keluar, bentangan seperti benang tadi disambung-sambung supaya melebar. Kemudain dibentuk menjadi busan atau kain selonjor atau dijadikan untuk topi tradisonal.

Namun pada zaman moderen seperti sekarang ini, banyak kita lihat bentuk busan pakaian adat yang dimiliki oleh masyarakat dayak dan berbagai macam jenis warna dan dihiasi berbagai macam hiasan seperti manik dan aksesori-aksesori. Pakaian adat Dayak seperti ini hanya bisa dipakai atau digunakan pada acara-acara tertentu. Seperti acara pernikahan, acara adat dan acara pergelaran seni budaya.

Itupun, sudah dimodifikasi dengan menggunakan kain yang umum digunakan oleh masyarakat pada zaman sekarang dan dihiasi dengan ukiran serta warna-warni khas suku Dayak untuk memperindah tampilannya. Warna khas suku dayak adalah hitam dan merah. Warna ini merupakan warna identik masyarakat Dayak pada zaman dahulu dan hingga sekarang.