Rumah Pengasingan di Tengah Keindahan Banda

Saksi kecintaan Muhammad Hatta pada Indonesia. Di pulau kecil di tengah Laut Banda pun ia masih berjuang, menyediakan waktu untuk mengajar anak-anak Banda di rumah pengasingannya di Banda Naira.

Keindahan dan kekayaan Kepulauan Banda memang telah kondang dan memikat pendatang sejak berabad lalu. Tak hanya wisatawan di zaman modern, tapi juga penjelajah dan penjajah. Pada masa kolonial Inggris, Belanda dan Portugis menguasai dunia di sekitar abad 16, keindahan dan kekayaan alam Banda menjadi berkah, sekaligus bencana bagi warganya.

Peninggalan dan bukti perjuangan rakyat Banda dan Indonesia, masih banyak tertinggal dan terjaga di gugusan pulau-pulau di Maluku Tengah ini. Dari benteng-benteng yang megah, hingga rumah kecil dikelilingi alam indah, tempat Belanda mengasingkan Bung Hatta.


Pernah Jadi Sekolah
Rumah tua nan sederhana itu terletak di ujung pertigaan jalan di Pulau Neira. Dindingnya berwarna putih, dengan jendela-jendela persegi panjang bercat kuning dan cokelat, sama seperti pagar pembatasnya.

Di rumah itulah dulunya salah satu pahlawan nasional, Proklamator dan Bapak Bangsa kita, Mohammad Hatta diasingkan selama enam tahun. Antara 1936-1942, ia dikucilkan di Banda Neira, Kepulauan Banda bersama rekannya sesama pahlawan revolusi, Sutan Syahrir.

Sebelum dikirim ke Banda oleh Belanda, keduanya juga sempat dibawa ke pelosok Boven Digoel, Papua karena dianggap terlalu berbahaya bagi Belanda jika dibiarkan beraktivitas.

Di Digoel, Hatta, Syahrir, dan seluruh tahanan politik dan orang buangan hidup menderita. Mereka memang bebas berkeliaran, tapi tak bisa kemana-mana karena Digoel adalah kawasan terpencil yang dikelilingi hutan rimba yang lebat. Apalagi di sana nyamuk malaria berkembang biak dengan suburnya.

Hatta yang tertekan dan stress pun mengirimkan surat ke saudara iparnya. Tak disangka, suratnya itu dikirim ke koran di Jakarta dan Belanda. Mungkin untuk meredam kritik yang membanjiri pemerintah Belanda, akhirnya Hatta dan Syahrir dipindahkan ke Banda Neira yang lebih manusiawi.

Di tengah pengasingan, Bung Hatta tak berhenting berjuang. Ia membuka Sekolah Sore bagi anak-anak Banda. Di sana, ada tujuh pasang meja dan bangku yang hingga kini masih tersusun rapi. Di depan, juga ada papan tulis kapur dengan tulisan Hatta yang berbunyi, “Sedjarah Perdjoeangan Indonesia Setelah Soempa Pemoeda di Batavia Pada Tahun 1928,”.

Selain itu, di dalam rumah juga terdapat barang-barang peninggalan Hatta yang masih terawat baik. Ada kacamata tua, sepasang sepatu, dan jas miliknya. Di kamarnya, tempat tidur dengan sprei dan kelambu putih juga masih terlihat seperti aslinya. Di sisinya, ada rak bertingkat empat dan meja tua. Sementara dindingnya dihiasi beberapa potret foto Bung Hatta bersama sejumlah warga Banda.

Selama ini Hatta juga dikenal sebagai pria yang cerdas dan gemar membaca serta menulis. Hal itu bisa terlihat dari adanya meja kerja yang di atasnya ada mesin ketik tua berwarna hitam. Di sanalah Hatta biasa menyalurkan aspirasinya dalam bentuk karya tulis.

Semua barang peninggalan Hatta dirawat baik oleh seorang wanita Banda yang bernama Emi Baadila. Dialah yang dengan sepenuh hati menjaga dan membersihkan Rumah Pengasingan Bung Hatta tersebut. Kamu bisa menemuinya dan mendengar kisah-kisah Bung Hatta darinya jika sedang berkunjung ke rumah tersebut.