Masjid Seribu Tiang Jambi, Jumlah Tiangnya Seribu?

Terletak di Jalan Sultan Thaha No. 60 Legok, Jambi, Masjid Agung Al-Falah merupakan salah satu ikon pariwisata religi di Provinsi Jambi. Terkenal dengan nama sebutan Masjid Seribu Tiang, masjid ini memiliki arsitektur yang unik, yakni memiliki bangunan tanpa dinding.

Saat melihat pertama kali bangunan masjid, mungkin ada 2 pertanyaan yang akan terlintas di pikiran kita. Pertama, kenapa masjid ini dibangun tanpa pintu maupun jendela? Kedua, apa benar jumlah tiangnya ada seribu?

Jawaban pertama, masjid ini dirancang tanpa pintu dan jendela, karena sejalan dengan nama Masjid Agung Al-falah. Agar tidak ada sekat yang membatasi ruangan dalam masjid tersebut. Seolah menyambut dengan ramah siapa saja yang ingin beribadah di dalam masjid. Selain itu masjid juga terlihat lebih luas.

Jawaban kedua, masjid ini punya tiang hanya 288 buah. Dijuluki Masjid Seribu Tiang karena banyaknya tiang, jadi orang beranggapan ada seribu tiang. Sama halnya seperti Lawang Sewu di Semarang, yang jumlah pintunya tidak sampai seribu buah.

Sekilas, Masjid Agung Al-Falah memiliki bangunan layaknya sebuah pendopo yang terbuka dengan banyak tiang di dalamnya. Tak hanya memiliki tiang beton, Masjid Agung Al-Falah juga memiliki kubah besar di atasnya. Bangunan dengan konsep keterbukaan tanpa sekat seperti ini menggambarkan konsep ramah.

Tiang-tiang berukuran kecil dengan tiga sulur menjulang ke atas tampak kokoh menghiasi sisi luar masjid dengan dominasi warna putih. Sementara tiang lebih besar berlapis tembaga berdiri tegak di sisi dalam masjid.  Dibangun lengkap dengan kubah besar dan menara yang menjulang, keseluruhan bangunan masjid ini menggunakan beton bertulang.

Bila dilihat sekilas, jejeran tiang masjid berwarna putih yang ramping itu memiliki kemiripan dengan tiang-tiang Masjid Agung di kota Roma, Italia yang dibangun jauh lebih dulu dibanding dengan Masjid Seribu Tiang ini.

Nama Al-Falah sendiri merupakan bahasa arab yang bila diartikan Kemenangan. Menang bermakna memiliki kebebasan tanpa kungkungan. Salah satu filosofi ini juga yang menjadi dasar dibangunnya masjid ini dengan konsep terbuka. Agar seluruh muslim di Jambi dan manapun bebas masuk melaksanakan ibadah di masjid ini.

Sedikit sejarah tentang Masjid Seribu Tiang ini. Masjid ini dibangun pada tahun 1971 dan selesai tahun 1980. Dulunya sebelum menjadi Masjid Seribu Tiang, lokasi ini merupakan pusat Kerajaan Melayu Jambi yang dipimpin Sultan Thaha Syaifudin. Namun pada tahun 1885 dikuasai penjajah Belanda, lalu dijadikan pusat pemerintahan dan benteng Belanda.

Pasca Merdeka, tokoh adat dan masyarakat Jambi menginginkan adanya masjid besar sebagai ikon dari Provinsi Jambi. Sehingga, pada tahun 1960 mulailah direncanakan untuk membangun masjid ini. Sampai sekarang Masjid Seribu Tiang inipun menjadi ikon dari Jambi yang menarik untuk kita kunjungi.