Menjajal Crafted Beer Asli Indonesia di Pabriknya

Di luar keindahan alam, dan keelokan budayanya, Bali menyimpan kejutan lain. Bir!

Dalam khasanah bir dunia, Indonesia bisa jadi tidak atau belum masuk ke dalam jajaran negara yang diperhitungkan, baik dari segi konsumsi, apalagi produksi. Bisa dimaklumi, karena memang jenis minuman beralkohol yang satu ini tidak pernah menjadi produk budaya yang mengakar sebagai tradisi di etnis manapun di negeri ini.

Berbeda dengan minuman fermentasi lain seperti tuak, ciu, arak, atau anggur yang memang memiliki sejarah budaya yang panjang, bahkan sejak sebelum masa pra-Indonesia dan negeri ini masih berupa kumpulan kerajaan Nusantara. Hal ini tentu tak lepas dari fakta bahwa bahan dasar bir, yakni gandum, tak bisa tumbuh optimal di daerah dengan iklim tropis seperti Indonesia.

Toh hal itu tak menjadi halangan bagi beberapa pihak untuk tetap memproduksi bir. Karena setelah diperkenalkan oleh pemerintah era kolonial di awal abad 20, dalam perkembangannya, cita rasa pahit, asam namun segar yang dikeluarkan bir diterima dengan sangat baik oleh lidah sebagian kalangan masyarakat lokal. Hingga walau tingkat konsumsinya tak masif seperti, Vietnam, Thailand atau Filipina, bir mendapat tempat cukup respektif di khasanah kuliner Indonesia. Terbukti dengan masih diproduksinya secara massal beberapa produk bir lokal hingga saat ini. 

Sejak beberapa tahun silam, para penyesap bir di Indonesia juga mulai akrab dengan craft beer, alias bir yang tak diproduksi secara massal demi mengejar cita rasa yang unik dan customized. Produk-produk macam ini biasanya dibuat oleh home-brewery (tempat pembuatan bir rumahan) juga micro-brewery (tempat pembuatan bir dengan kapasitas dan volume produksi yang terbatas tak sebesar korporasi). 


Kualitas Air
Salah satu micro-brewery asli Indonesia berada di Bali, tepatnya di daerah Buleleng, Singaraja, Bali Utara.

“Bukan tanpa alasan kami memilih daerah ini sebagai lokasi brewery. Sebagaimana diketahui, selain gandum berkualitas, unsur yang paling vital dalam pembuatan bir, adalah air. Setelah survey yang cukup lama, kami menemukan bahwa kualitas air yang mengalir dari Gunung Batukaru di daerah ini sangat memenuhi standar untuk pembuatan bir kami, “ ujar Albert, Sang Master Brewer.

Mulai berproduksi pada 2010, baru belakangan brewery yang menghasilkan craft beer bermerek Stark ini membuka pintunya pada para penggemar bir yang ingin mengetahui proses produksi mereka. Namun Anda harus tergabung dalam paket tur khusus yang dikelola pihak atau rekanan ketiga.

Selain tur ke dalam brewery, dan belajar mengenai proses brewing, peserta juga diperkenalkan ke berbagai varian craft beer produksi Stark, serta diajari konsep beer-pairing (mencocokkan rasa bir dengan makanan), bahkan diperkenankan menuang langsung dari silo penyimpanan bir yang baru jadi. 

“Karena tujuan utama kami adalah membuat craft beer dengan cita rasa Indonesia, maka kami berusaha untuk memanfaatkan bahan baku asli Indonesia secara optimal. Nggak heran kalau kemudian ketika di-pairing dengan makanan asli Indonesia, rasanya cocok,” ujar Eddy Kurniadi, sales manager Stark.

Nah, jika Anda adalah penggemar bir, rasanya tur brewery ini bisa jadi salah satu agenda saat kali lain berlibur ke Bali.