Nagari Singkarak di Jantung Sumatera

Singkarak, danau seluas 107,8 kilometer di tengah Pulau Sumatera. Danau terluas kedua di Sumatera ini dikelilingi desa-desa bersahaja dengan lanskap menakjubkan. Sawah berjenjang serta rumah-rumah adat yang masih berdiri kokoh.

Berkendara dari Nagari Saniangbaka, melipir di tubir danau dan terus ke utara Danau Singkarak, di bibir danau kaldera terbesar di Sumatera Barat, Nagari Sumpu terlihat sempurna sebagai sebuah desa kuno Minangkabau. Di dalam sebuah lembah yang tenteram menghijau di antara dua jejer Bukit Barisan yang membujur dari utara ke selatan.

Sawah-sawah luas dan tanah perladangan terkangkang lepas ke Gunung Marapi dan Singgalang. Dan di tengah-tengah hamparan persawahan itu, mengalir Batang Sumpur yang jernih airnya bagai hendak bisa berkaca. Rimbun rampak pepohonan meneduhi rumah-rumah penduduk yang berserak di pinggir utara persawahan itu. Rumah-rumah yang kebanyakan berarsitektur Minangkabau tradisional, rumah adat yang panjang, beratap tinggi dan bergonjong enam.

Di kiri dan kanan Batang Sumpur, gugusan pulau kelapa membujur paralel mengikuti garis sungai bersama pohon buah-buahan yang beraneka jenis yang ketika musimnya menebarkan aromah harum.

Pagi-pagi sekali, cahaya matahari yang keemasan akan terlihat berpendar di permukaan danau, memantul ke pucuk-pucuk hijau pepohonan di pinggang-pinggang tebing perkampungan. Jalan-jalan desa yang beraspal sempit lengang saja hampir sepanjang hari, kabut pagi yang menyeruak bagai selimut musim hujan yang lembut. Beberapa orang dewasa juga telah bersiap-siap menuju ke ladang menyandang peralatan pertanian dengan punggung setengah terbungkuk.


Kampung Sunyi yang Damai
Dulu ketika kereta api masih aktif di kawasan Singkarak, pada pagi-pagi begini, peluit kereta masih terdengar melengking memecah sunyi kampung. Membikin riuh sebentar untuk kembali ‘mampus dikoyak-koyak sepi’. Orang-orang, yang kebanyakan para pedagang, dengan kereta itu, diangkutnya ke Kota Solok, atau nun jauh ke Sawalunto, atau ke Pasar Padangpanjang yang lebih dekat ketika hari pekan tiba.

“Tetapi satu dekade belakangan, tidak ada lagi kereta yang lewat,” kata orang tua yang sama. Rel-rel berkarat. Jembatan-jembatan perlintasan penuh semak meninggi. Dan sunyi di sini semakin tak punya peningkahnya.

Ketika senja, di anjungan dan jendela-jendela rumah-rumah berarsitektur kuno itu, perempuan-perempuan tua menyembulkan kepala melempar sapa dan senyum lebar kepada setiap orang yang lewat di jalan. Sementara beberapa kedai kopi yang terhampar di sepanjang jalan masih didatangi para laki-laki berumur yang terkantuk-kantuk menunggu magrib tiba, menunggu panggilan azan yang menyeru dari cerobong-cerong pengeras suara di masjid.

Kampung-kampung yang sunyi, nan damai. Orang-orang muda telah banyak yang pergi meninggalkan kampung, larut dan jikapun berniat pulang hanya sekali setahun ketika Hari Raya.