Letcu, Oleh-oleh dari Hutan Mentawai

Festival Pesona Mentawai 2018 yang diadakan di Pulau Siberut tidak semata menghadirkan pentas budaya dan atraksi purba, melainkan juga menampilkan kerajinan yang unik dari bahan-bahan alami. Apa itu, dan bagaimana proses membuatnya?

Dalam membuat kerajinan tradisional, masyarakat Mentawai di perairan Sumatera Barat masih menggunakan peralatan yang sederhana dan memanfaatkan tumbuhan-tumbuhan yang hidup secara liar hutan. Salah satu kerajinan dan oleh-oleh khas Mentawai adalah gelang yang disebut juga dengan Letcu. Letcu terbuat dari bahan dasar tumbuhan pakis hutan (osap) dan rotan (pelege), yang seratnya diambil dan kemudian dibersihkan dan dihaluskan.

Kedua bahan dasar pembuatan gelang tersebut tumbuh subur di hutan Siberut. Pakis hutan tersebut setelah kulitnya yang keras dibuka akan terlihat isi dalamnya yang berwarna coklat gelap berbentuk serat-serat memanjang. Serat inilah yang kemudian dibersihkan dan dihaluskan dengan pisau raut (balugui), sebelum dijalin dengan motif berbentuk zigzag.


Motif Khas Zigzag
Berbeda dengan rotan (pelege) yang diselimuti duri, untuk dijadikan bahan pembuatan gelang, rotan harus di belah beberapa kali lalu dibersihkan dan dihaluskan kembali sehingga membentuk serat serat yang memanjang. Tidak jarang gelang letcu dibuat dengan memadukan kedua bahan tersebut. Perpaduan antara tumbuhan pakis hutan dengan rotan bahkan menghasilkan corak hitam putih atau coklat putih dengan motif zigzag yang indah.

Motif zigzag merupakan motif umum gelang letcu yang dibuat oleh masyarakat mentawai. Membuat gelang letcu sudah menjadi bagian dari kerajinan tangan khas Mentawai, yang biasanya digeluti oleh generasi muda. Seiring perkembangan zaman, gelang letcu yang pada awalnya hanya dibuat untuk perhiasan tangan sendiri, kini menjadi kerajinan yang dapat dikomersilkan.

Selain gelang letcu, perhiasan dari manik-manik juga menjadi kerajinan khas dari mentawai. Gelang dan kalung yang terbuat dari manik-manik yang dirangkai dalam seutas benang juga menjadi kerajinan tangan yang banyak diminati oleh para wisatawan yang datang ke pulau Mentawai. Di arena festival, pengunjung juga bisa membeli oppa atau keranjang rotan, miniatur uma, atau burung mainan roh yang dibuat dari kayu.

Foto : Fatris MH