Sikerei, Orang Suci Suku Mentawai

Sikerei adalah penjinak bisa, penolak segala bala, penjaga kelangsungan hutan hujan di Siberut. Di dunia modern, ia dianggap menyuruk dan tertinggal peradaban. Bagaimanakah fungsi sikerei di pedalaman Mentawai?

Sikerei adalah orang yang dipercayai memiliki kekuatan spiritual yang tinggi dan kedekatan dengan roh leluhur untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit dalam ajaran Arat Sabulungan, ajaran purba Suku Mentawai. Sikerei bertugas untuk melakukan segala ritual, punen, mulai dari ritual pendirian rumah baru, prosesi kelahiran dan kematian, pergi ke ladang, berburu, serta yang terutama untuk pengobatan dan penyembuhan masyarakat yang sakit.

Semua ritual tersebut dilakukan dengan melakukan tarian khusus yang disebut turuk. Khusus untuk menyembuhkan orang sakit biasanya dilakukan  oleh Sikerei dengan memberikan ramuan obat, baru kemudian dilanjutkan dengan Turuk. Tarian ini dipercaya sebagai tarian pemanggil roh leluhur.


Penghubung Dua Dunia
Sikerei, diyakini sebagai mediator yang bertugas untuk melakukan komunikasi yang menghubungkan anggota masyarakat yang memiliki keperluan dengan para roh leluhur.

Dalam ajaran Arat Sabulungan tidak bisa dilepaskan dari kepercayaan terhadap roh, roh yang menjaga hutan, air, dan udara. Setiap benda diyakini memiliki roh dan jiwa. Agar tercipta sebuah harmonisasi, maka hubungan antara manusia dan roh harus dijaga dengan baik.

Dalam hal ini Sikerei bertugas menjadi penghubung antara dua dunia tersebut. Apabila terdapat seorang anggota masyarakat yang sakit jiwa, maka dipercaya bahwa roh dirinya sedang meninggalkan tubuhnya, sehingga Sikerei akan melakukan ritual turuk untuk memanggil kembali roh orang sakit tersebut. Oleh karena itu seorang Sikerei memegang peran penting dalam kehidupan masyarakat Mentawai.

Proses penunjukan dan pemilihan seorang Sikerei tersebut biasanya berdasarkan ramalan maupun lewat mimpi Sikerei terdahulu. Selain itu seorang yang terpilih oleh roh nenek moyang untuk menjadi Sikerei juga kerap mengalami kesurupan dan kemasukan roh. Setelah itu ia akan mengalami sakit yang tidak kunjung sembuh. Untuk dapat sehat dari sakit tersebut, hanya ada satu jalan, yaitu menerima penunjukan untuk menjadi Sikerei.

Sebelum dinobatkan menjadi Sikerei, seorang calon Sikerei akan melewati beberapa tahapan. Ia akan diuji secara mental maupun fisik mulai dari kemampuan meracik ramuan obat-obatan hingga meditasi untuk berinteraksi dengan alam para roh. Ia juga akan diajarkan beberapa pantangan dan larangan yang tidak boleh dilanggar oleh seorang Sikerei. Setelah berhasil melewati tahapan demi tahapan, sebagai syarat utama dalam pengangkatan seorang Sikerei, mereka yang ditunjuk haruslah memotong babi dan ayam sebagai persembahan kepada arwah leluhur.

Setelah penunjukan itu ia terima, maka sakit yang tak kunjung sembuh yang mendera sebelumnya akan otomatis hilang begitu saja. Beberapa pantangan makan yang harus dipatuhi sebagai seorang Sikerei seperti larangan untuk makan pakis, bilou (sejenis monyet khas pulau mentawai) dan belut.

Foto : Fatris MH