Pulau Sapi, Super Instagramable dengan Ukiran Dayak

Di beberapa kota di Pulau Jawa sedang musim “Kampung 3D” . Di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, beda lagi. Di Desa Pulau Sapi, sekitar 400 rumah warga diperindah dengan lukisan bermotif ukiran Dayak.

Jadi begitulah. Lukisan tak cuma meliputi satu dua ruas jalan. Di Desa Pulau Sapi lukisan dan ukiran tampil di mana-mana. Di dinding-dinding rumah, di warung kopi, balai desa atau fasilitas umum. Alhasil, jika sekali tempo kita datang ke desa itu, pastilah pasti kita akan merasa tiba di sebuah area festival. Semarak, penuh warna, instagramable.

Di Balai Desa saja ada banyak spot pemotretan. Bangunannya berwarna biru. Corak ukir Dayak Lundayeh, mayoritas suku Dayak di Pulau Sapi bertebaran di bagian luar dan dalam. Bahkan lantai di pintu masuk.

Halaman balai juga terbilang sangat lega. Tentu, karena juga berfungsi sebagai alun-alun. Sementara di halaman belakangnya berdiri tiang menjulang.  Lalu di bawahnya menunggu sebentuk patung buaya. Besar dan menampakkan kekuatan. Buaya adalah simbol desa dengan segala filosofinya.


Berawal dari Aco Lundayeh
Sejak kapan Pulau Sapi menjadi begitu atraktif?

Ceritanya terjadi pada pertengahan tahun ini. Tepatnya dua-tiga bulan sebelum Juli 2018. Itulah saat di desa diselenggarakan festival kebudayaan. Tajuk acara  “Aco Lundayeh”.  Aco artinya hari. Lundayeh adalah nama salah satu suku Dayak, yang bermukim di desa itu. Jadi, kalau diinggris-inggriskan bolehlah kita menyebutnya sebagai “The Lundayeh’s Day”.

Festival kebudayaan seluruh masyarakat Lundayeh dari berbagai pelosok negeri itu berlangsung 9 hingga 15 Juli lalu. Pesertanya meluber hingga 10.000-an orang. Sebagai tuan rumah yang baik, sudah barang tentu warga dengan senang hati bergotong royong. Mereka memperindah desanya.

“Memang ada bantuan dari Kantor Desa. Tetapi pasti tidak cukup,” kata Franando, 32 tahun, salah satu warga. “Jadi, masyarakat di sini ikut mengeluarkan dana untuk mempercantik rumah serta lingkungannya sendiri,” tambah pria yang kerap memandu para fotografer yang datang dan hendak mengeksplorasi Malinau itu.

Warga Pulau Sapi memang kreatif. Dan soal kreativitas budaya itulah yang menjadi daya tarik utama. Di luar soal corak ukiran Dayak Lundayeh, di desa itu segala bentuk kesenian dan kerajinan tradisional dipelihara dan dikembangkan. Intinya, warga sadar betul di bidang ekonomi kreatiflah desa berusia 61 tahun itu punya potensi.

Itu sebab pemerintah kabupaten menetapkan Pulau Sapi sebagai satu dari lima desa wisata Malinau pada 28 Oktober 2015. Empat desa wisata lain adalah Setulang, Long Alango, Serindit Malinau Seberang, dan Apau Ping.


Homestay di Tiap RT
Sebagai desa wisata, Pulau Sapi tentu punya homestay. Kepala Desa, Otniel, dalam kesempatan menyambut Aco Lundayeh menyebutkan ada 12 rumah warga yang bisa difungsikan sebagai homestay. “Di setiap RT pasti ada homestay,” tuturnya.


Desa yang berdekatan dengan Desa Wisata Setulang serta lokasi Air Terjun Semolon itu juga  memiliki tempat nongkrong. Setidaknya ada dua warung kopi. Kaum muda setempat menggunakannya untuk kongkow dan main game.

Atau, para pengunjung bisa juga berleha-leha di beberapa gazebo di tepian Sungai Mentarang. Untuk yang memiliki hobi olahraga, bolehlah dicoba jogging track yang memanjang di sepanjang sungai.

Duduk-duduk di gazebo, memungkinkan kita untuk berjumpa dan ngobrol apa saja dengan warga yang ramah. Aktivitas masyarakat di tepian sungai lumayan menarik perhatian. Dari kegiatan para pembuat perahu hingga anak-anak yang gembira bermain basah-basahan di sungai.

“Kalau mau menikmati malam yang menyenangkan, datang pada Desember. Betul-betul meriah, karena di seluruh desa lampu warna-warni dinyalakan untuk menyambut Natal,” jelas Dicky, seorang warga yang sehari-hari menjadi driver yang sering mengantarkan para wisatawan.

Foto : Elwin Siregar