Pembuatan Ondel-Ondel yang Penuh Ritual

Menjadi simbol budaya khas betawi, ondel-ondel memiliki makna di balik badannya yang besar, matanya yang dibuat melotot dan berpasangan. Satu hal yang pasti, zaman dahulu ondel-ondel dibuat dengan penuh ritual khusus.

Ondel-ondel merupakan salah satu kesenian khas Betawi. Namun sebelum dikenal sebagai khas Betawi, Ondel-ondel adalah penolak bala atau kesialan yang lebih dikenal dengan nama ‘Barongan’. Bentuknya yang tinggi besar rupanya dianggap ampuh sebagai penolak bala.

Pembuatannya pun tak sembarangan. Ondel-ondel membutuhkan sesajen berisi bubur merah-putih, rujak-rujakan tujuh rupa, bunga tujuh macam, serta asap kemenyan.  Ketika selesai dibuat pun, Ondel-ondel akan tetap diberikan sesajen dan dibasuh dengan asap kemenyan disertai dengan mantera-mantera. Pemain ondel-ondel juga senantiasa melakukan ritual pembakaran kemenyan yang disebut ‘Ngukup’, begitulah masyarakat Betawi menyebut ritual tersebut.

Ondel-ondel yang digunakan sebetulnya memiliki bentuk hampir sama, meski corak dan warnanya beragam, sehingga akan terlihat menarik. Bentuk ondel-ondel menyerupai boneka manusia dengan ekspresi wajah yang tersenyum ramah.

Nama ondel-ondel yang kerap di dengar ternyata berasal dari kata gondel-gondel, yang memiliki arti menggantung atau bergandul. Kata tersebut didasari oleh gerakan ondel-ondel yang terlihat berayun ketika berjalan.

Ondel-ondel lelaki biasanya berwarna merah. Selain dicat merah, matanya pun dibuat melotot, ditambah dengan kumis, senyuman yang menyeringai, dan mengenakan baju berwarna gelap. Hal ini merupakan simbol semangat dan keberanian, tapi ada juga yang menyebut simbol kekuatan jahat.

Berbeda dengan ondel-ondel perempuan yang berwarna putih, yang menandakan kebaikan dan kesucian. Biasanya ondel-ondel perempuan mulutnya akan tersenyum manis dengan riasan gincu, serta menggunakan warna cerah polos atau bermotif kembang-kembang. Tinggi ondel-ondel sekitar 2.5 meter dengan lebar sekitar 80 cm. Terbuat dari anyaman bambu sehingga ringan saat dipikul.

Pada bagian kepalanya menyerupai topeng yang diberi ijuk sebagai rambut. Musik pengiring ondel-ondel terdiri gendang tepak, gendang kempul, kenong kemong, krecek, gong, dan terompet. Pementasan ondel-ondel juga bisa diiringi oleh pertunjukan pencak silat khas Betawi.

Saat dipentaskan, ondel-ondel pun harus tampil berpasangan. Hal ini memiliki alasan tersendiri. Masyarakat Betawi memercayainya sebagai bentuk keseimbangan antara kekuatan baik dan buruk. Saat ini ondel-ondel tidak hanya bisa disaksikan di acara-acara perayaan tertentu saja. Namun, para seniman ondel-ondel juga kerap menampilkannya di jalan-jalan Ibu Kota Jakarta.