Tenun Sekomandi, Kain Warisan Leluhur Kalumpang

Tenun Sekomandi, tenun ikat tradisional berusia ratusan tahun. Dikerjakan secara manual dengan bahan-bahan alam dan imajinasi.

Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat menyimpan banyak benda-benda cagar budaya, serta ragam adat yang sangat unik dan bernilai sejarah tinggi. Salah satu daerah yang masih menyimpan kekayaan alam seni tradisi leluhur ratusan tahun yang lalu dan masih terjaga hingga saat ini adalah Kalumpang, dengan tradisi tenunnya yang dikenal dengan tenun ikat Sekomandi. 
 
Ikatan Keluarga
Sekomandi berasal dari dua kata, yaitu "Seko" yang berarti persaudaraan atau kekeluargaan atau rumpun keluarga, dan "Mandi'" yang berarti kuat atau erat. Sehingga Sekomandi' dapat dimaknai sebagai "Ikatan persaudaraan atau kekeluargaan yang kuat dan erat".
Pada jaman dahulu, selain dibuat untuk kepentingan sendiri, kain tenun Sekomandi merupakan alat tukar yang bernilai tinggi. Biasanya kain tenun dalam rupa pakaian adat ini di tukar dengan beberapa hewan peliharaan seperti kerbau atau babi. 
Tahap pembuatan kain tenun Sekomandi pada dasarnya terbagi menjadi tiga, yakni pemintalan, pewarnaan benang, dan penenunan, sehingga proses dari awal hingga menjadi sebuah kain tenun biasanya akan memakan waktu yang cukup lama.
 
Tiap Motif Bermakna 
Salah satu tenun ikat dengan motif tertua di Indonesia ini memiliki pola warna dan struktur kain yang unik. Semua proses pengerjaan tenun Sekomandi, dari pembuatan benang hingga menenun kain, dilakukan dengan tangan dan menggunakan alat-alat tradisional. Tak hanya itu, pewarnaan bahan kain ini juga menggunakan bahan-bahan alami.
 
Untuk menciptakan motif tertentu, sang penenun sebelumnya tidak membuatkan pola atau sketsa pada benang yang diikat pada katadan (sebuah alat yang digunakan untuk menahan benang pada saat diikat agar rapi). Pembuatan pola motif dan sketsa kain ini terjadi dalam pikiran dan imajinasi penenun.
Bentuk motif yang dibuat juga bukan sembarang motif. Motif - motif yang dibuat oleh penenun ini memiliki jenis dan makna tersendiri. Diantaranya ada motif Ba'ba Diata, Lele Sepu Ulu Karua Lepo, Ulu Karua Barinni Pori Dappu, Tosso' Balekoan, Tonoling, dan motif Toboalang. Biasanya, motif-motif ini ditampilkan dengan warna yang cenderung tegas sekaligus kalem dengan memadukan warna jingga, merah, coklat, hijau, krem, dan kuning.
 
Tidak hanya pembuatannya yang masih tradisional, tenun Sekomandi juga diwarnai dengan pewarna alam, yakni menggunakan bahan-bahan dari berbagai jenis tanaman, seperti jahe, lengkuas, cabai, kapur sirih, laos, kemiri, juga beragam dedaunan, akar pohon, serta kulit kayu. Bahan-bahan ini kemudian ditumbuk halus dan dimasak sebagai air rendaman kain. Untuk mendapatkan warna yang benar-benar bagus dan tidak luntur, benang direndam berulang-ulang dalam larutan pewarna setiap hari selama satu bulan.
Bahan benang kain tenun sekomandi berasal dari kapas yang dipintal secara manual. Proses pemintalan yang dikerjakan secara tradisional ini bisa memakan waktu tiga hingga enam bulan.
 
Kain yang Bernilai Tinggi
Dengan bahan alami yang terbatas dan proses penenunan yang rumit, sehingga untuk memproduksi sehelai kain tenun ikat Sekomandi, dibutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan-bulan. Hal ini juga yang menyebabkan kain tenun Sekomandi tidak bisa diproduksi dalam jumlah massal sekaligus. Jadi, jangan heran apabila kain tenun ini dibandrol dengan harga tinggi dan bisa mencapai puluhan juta rupiah, ya!
Karena proses pembuatan kain tenun Sekomandi yang begitu rumit, pengrajin tenun soekamandi harus memiliki keahlian khusus. Keahlian ini didapatkan masyarakat Kalumpang secara turun-temurun selama ratusan tahun.
Kain tenun yang sangat artistik dan bernilai unik ini dibuat dalam berbagai macam produk, diantaranya untuk pakaian, selendang, taplak, dan berbagai produk lainnya dengan harga yang bervariasi. Kain tenun Sekomandi juga bisa dijadikan cindera mata yang tak ternilai dengan uang.
Saat ini, tenun Sekomandi telah dikenal luas bahkan menjadi salah satu ikon Mamuju. Permintaan akan tenun ikat tradisional ini juga kian meningkat. Hal ini mendorong para penenun untuk kembali menekuni pekerjaan ini karena hasilnya yang menjanjikan.