Pasar Triwindu, Gudang Barang Antik di Solo

Berdiri sejak 1939, Pasar Triwindu merupakan destinasi utama pemburu koleksi kuno di Solo. Dari gramafon, alat dapur, koin, radio bekas sampai pusaka dan mesin penggiling kopi.

Selama ini Kota Surakarta atau Solo terkenal dengan budaya, batik dan kulinernya. Nilai-nilai budaya sejak masa lalu di Kota Solo sangat terpelihara. Salah satunya bisa dilihat melalui dua keraton yang masih berdiri, yaitu Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran.

Nilai budaya masa lalu di Solo tak hanya bisa dinikmati dari peninggalan masa lalu dalam bentuk keraton, tetapi juga berbagai barang dan pernak-pernik yang tetap terpelihara hingga saat ini. Untuk mengintip berbagai pernak-pernik masa lalu pun, bisa dinikmati di beberapa pasar barang antik diantaranya di Pasar Triwindu dan Pasar Klitikan.

Pasar Triwindu

Pasar Triwindu memiliki nama lain Pasar Windujenar, berdiri sejak 1939. Pasar ini diselenggarakan untuk meramaikan acara naik tahta Adipati Sri Mangkunegara VII yang ke 24 atau tiga windu (Triwindu). Dahulu tanah pasar ini merupakan milik Pura Mangkunegaran. Pada  2011, Pasar Triwindu berubah nama menjadi Pasar Windujenar.

Pasar Triwindu terletak di kawasan koridor budaya Ngarsopuro, di seberang Pura Mangkunegaran, tepatnya di Jalan Diponegoro, Keprabon, Surakarta. Pasar barang antik ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB, memiliki bentuk bangunan khas Jawa berupa joglo dengan komponen utama kayu. Pasar Triwindu memiliki bangunan 2 lantai dengan 257 kios. Di lantai satu didominasi kios barang antik dan lantai dua ada beberapa kios yang menjual onderdil bekas.

Pasar ini juga menjadi destinasi wisata yang khusus menjual benda-benda kuno dan antik. Berbagai benda kuno bisa ditemukan di sini, mulai dari gramafon, alat dapur, aksesoris, koin kuno, kain batik, uang kuno, topeng, pusaka, radio bekas, perkakas rumah tangga, lampu kaca, barang keramik, perlengkapan membatik, penggiling kopi, poster jadul, hingga buku jadul. Juga terdapat mainan tradisional, yaitu congklak (dakon) dan kelereng (gundu).

Tidak semua barang antik yang dijual di Pasar Triwindu merupakan barang asli. Ada barang tiruan yang dibuat menyerupai dengan bentuk aslinya. Berbelanja di pasar ini harus jeli, pembeli harus bisa membedakan antara barang yang asli dengan barang tiruan, atau tanyakan langsung ke penjualnya, barang asli atau replika.

Harga yang ditawarkan di tempat ini sangat bervariasi, tergantung dari usia barang, sejarah, dan kondisinya. Pengunjung bisa menawar harga hingga setengah harga. Selain membeli barang, di pasar ini juga bisa menerapkan sistem barter barang. Harga dan barang bisa diatur, sesuai kesepakatan.