Indahnya Motif Manik-manik Khas Suku Dayak Tamambalo

Bukan kain tenun, tapi manik-manik khas yang menjadi oleh-oleh dari Suku Dayak Tamambalo. Uniknya, tidak boleh sembarangan orang yang membuatnya. Perlu ada ritual khusus untuk membuatnya. Bahkan, kalau melanggar kita bisa sakit, loh!

Tidak seperti Dayak Iban yang banyak membuat kerajinan tenun. Di suku Dayak Tamambalo justru kerajinan berbahan manik-manik lebih dominan. Umumnya digunakan sebagai pelengkap pakaian adat. Dua suku yang mendiami lokasi sekitar Danau Sentarum, Kalimantan Barat ini memang memiliki perbedaan yang cukup mendasar dalam hal kerajinan tangan.

Pengerjaan kerajinan manik-manik ini umumnya menjadi kegiatan para wanita Dayak Tamambalo sebagai pengisi waktu luang. Ketika habis meladang misalnya. “Pengerjaannya butuh waktu yang cukup lama, dan untuk motif-motif tertentu tidak sembarang orang boleh melakukannya. Perlu ritual khusus sebelumnya. Seperti motif Kakaletau, yang menyerupai motif manusia,“ papar Hilaria, wanita paruh baya Dayak Tamambalo.

Tidak heran harga yang ditawarkan cukup mahal. Bergantung dari ukuran dan kerumitan motifnya. Namun  perlu diakui, paduan warna dan motifnya memang menarik perhatian. Sayang, Pesona Travel belum mendapati orang-orang yang mengerti secara mendalam makna dibalik hadirnya motif-motif tersebut. Padahal menarik sekali untuk diulas.

Selain manik-manik, ada lagi kerajinan dari biji arere pangkarabun. Biji berwarna abu-abu yang dijalin bersama manik-manik menjadi kalung atau gelang tangan maupun kaki. Umumnya digunakan pada bayi sebagai saran pengusir roh halus. “Percaya atau tidak, hanya garis keturunan tertentu yang bisa menanam tanaman ini. Saya sudah membuktikannya, mata saya sakit dan baru sembuh ketika tanaman ini saya cabut. Ini juga dialami dan terjadi pada beberapa orang yang mencoba menanamnya,“ tutur Hilaria.

Memang Suku Dayak selalu memiliki keunikan dan juga misteri tersendiri.

Foto: Kodjang