Keraton Sumenep, Menyambut Tamu Dengan Senyum

Bangunan bersejarah kebanggaan kota Sumenep. Dibangun pada 1781 dengan arsitek Tionghoa. Menyimpan peninggalan bersejarah kerajaan, Al Quran tulisan tangan Sultan hingga tradisi keramahan Madura.

Kabupaten Sumenep di pulau Madura merupakan satu dari kota Kabupaten yang masih menyimpan sejarah peradaban dan kejayaan kerajaan-kerajaan masa lalu di Indonesia. Budaya adiluhung bisa kita saksikan di Museum dan Keraton Sumenep yang berada di jantung kota Sumenep ini.

Bangunan Keraton Sumenep masih sangat terawat. Di dalamnya berisi peninggalan-peninggalan raja-raja Sumenep seperti pusaka, keramik, kamar raja, baju perang dan ada sebuah Al Quran besar.  

Konon Al Quran ini ditulis tangan oleh Sultan Abdurrachman, penguasa negeri Sumenep tahun 1811-1854 Masehi. Ia hanya membutuhkan waktu satu hari satu malam untuk menyelesaikannya. Al Quran ini lengkap 30 juz berukuran 30×30 centimeter itu, ditulis tangan menggunakan kallam, sebuah alat tulis tempo dulu yang dibuat secara alami.

Labhang Mesem, Gerbang Senyuman Sultan

Keraton Sumenep berdiri di atas tanah milik pribadi Pangeran Natakusuma I (Panembahan Somala), di sebelah timur keraton lama milik Ratu R. Ayu Rasmana Tirtanegara. Kompleks bangunan Karaton Sumenep lebih sederhana dari kompleks Karaton kerajaan Mataram. Bangunannya hanya meliputi Gedong Negeri, Pengadilan Karaton, Paseban, dan beberapa bangunan Pribadi Keluarga Karaton.

Di depan keraton, ke arah selatan berdiri Pendapa Agung dan di depannya berdiri Gedong Negeri (sekarang Kantor Disbudparpora) yang didirikan oleh Pemerintahan Belanda. Konon, Pembangunan Gedong Negeri sendiri dimaksudkan untuk menyaingi kewibawaan keraton Sumenep dan juga untuk mengawasi segala gerak-gerik pemerintahan yang dijalankan oleh keluarga Keraton. Selain itu Gedong Negeri ini juga difungsikan sebagai kantor bendahara dan pembekalan Karaton yang dikelola oleh Patih yang dibantu oleh Wedana Keraton.

Di sebelah timur Gedong Negeri tersebut berdiri pintu masuk keraton Sumenep yaitu Labhang Mesem (pintu tersenyum). Pintu gerbang ini sangat monumental, disebut pintu tersenyum karena pada jaman dahulu para tamu Keraton Sumenep akan disabut oleh raja dengan tersenyum di pintu ini. Pada bagian atasnya terdapat sebuah loteng, digunakan untuk memantau segala aktifitas yang berlangsung dalam lingkungan keraton.

Konon jalan masuk ke kompleks keraton ini ada lima pintu yang dulunya disebut ponconiti. Saat ini tinggal dua buah yang masih ada, kesemuanya berada pada bagian depan tapak menghadap ke selatan. Pintu yang sebelah barat merupakan jalan masuk yang amat sederhana.

Di bagian pojok disebelah timur bagian selatan Labhang Mesem berdiri Taman Sare (tempat pemandian putera-puteri Adipati) dimana sekelilingnya dikelilingi tembok tembok yang cukup tinggi dan tertutup.

Dibangun 1781, Rancangan Arsitek Tionghoa

Karaton Pajagalan atau lebih dikenal Karaton Songennep dibangun di atas tanah pribadi milik Panembahan Somala penguasa Sumenep XXXI. Dibangun Pada tahun 1781 dengan arsitek pembangunan Karaton oleh Lauw Piango salah seorang warga keturunan Tionghoa. Ia mengungsi ke Madura akibat Huru Hara Tionghoa 1740 M di Semarang.

Karaton Panembahan Somala dibangun di sebelah timur karaton milik Gusti R. Ayu Rasmana Tirtonegoro dan Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro (Bindara Saod) yang tak lain adalah orang tua dia. Bangunan Kompleks Karaton sendiri terdiri dari banyak massa, tidak dibangun secara bersamaan namun di bangun dan diperluas secara bertahap oleh para keturunannya.

Selain Keraton Sumenep masjid Agung Sumenep juga merupakan salah satu cagar budaya dan kebanggan masyarakkat Sumenep. Masjid jamik Panembahan Somala atau lebih dikenal dengan sebutan Masjid Jamik Sumenep merupakan salah satu bangunan 10 masjid tertua dan mempunyai arsitektur yang khas di Nusantara.

Masjid Jamik Sumenep saat ini telah menjadi salah satu landmark di Pulau Madura. Dibangun Pada pemerintahan Panembahan Somala. Penguasa Negeri Sungenep XXXI, dibangun setelah pembangunan Kompleks Keraton Sumenep, dengan arsitek yang sama yakni Lauw Piango. Maka dari itu apabila kita perhatikan, lokasi masjid ini berada satu garis lurus dengan Keraton Sumenep.

Foto : Rismiyanto