Jejak Pejalan di Tanah Para Dewa

Redaksi Pesona

31 January 2018

Saya telah tinggal di Bali selama delapan belas tahun, dan meskipun saya sering melewati Taman Nasional Bali Barat, dalam perjalanan saya yang banyak ke Jawa, saya tidak pernah benar-benar masuk. Kawasan konservasi yang terletak di ujung Pulau Dewata ini telah dilewati melalui berbagai kunjungan lintas pulau.

 

Tidak lagi. Hari ini saya berhenti dan melangkah masuk. Saya berkesempatan melihat Bali Starling atau Bali Mynah (dikenal sebagai Jurik Bali) dan Brachminy Kite (secara lokal disebut Elang Bonjol). Di sini kami mempelajari seluk-beluk usaha yang dikeluarkan untuk melindungi dua burung yang terancam punah.

 

Bali Barat masih menyimpan harapan di hutan hujan tropis mereka yang tersisa. Di habitat ini, kita bisa melihat beragam fauna yang hidup bebas. Terbang cepat, dan berkobar menembus langit. Sayap gelap mereka tampak menerangi langit saat ia terbang.

Agus Prijono, ilustrator satwa liar dan penulis perjalanan pernah mengatakan bahwa pengamat burung sering datang ke Bali Barat untuk mengamati burung pemangsa. Mengenai perjalanannya di Bali Barat, dia menulis, "Matahari bersinar tanpa henti, dasar berkapur memancarkan panas yang mengasyikkan. Butiran keringat mengalir di kening saya, tapi di Akhir ini layak setiap menit untuk bisa menyaksikan migrasi elang dari belahan bumi utara."

Dia juga mengatakan waktu terbaik untuk mengamati migrasi adalah saat matahari berada pada puncaknya. Pada saat itu, aliran panas, yang bergulir dari dataran Bali Barat dan Selat Bali, akan membimbing elang mendarat di Pulau Dewata Island. Tegal Bunder hanyalah salah satu titik pengamatan dimana pengamat dapat melihat burung pemangsa ini karena merupakan jalur migrasi yang berulang.

Menonton burung yang terbang bebas di langit merupakan aktivitas yang sangat menyenangkan. Sebuah titik hitam tunggal, yang melayang di langit, menari berputar-putar. Karena semakin dekat, bentuk burung menjadi lebih jelas, sehingga kita bisa membedakan mana yang menjadi bayangannya. Yang satu ini adalah Alpacina Eagle. Burung berleher putih dan berujung tajam ini memberi jalan kepada sesama migran.

Beberapa saat kemudian tiga elang melayang di atas kita, dua Sparrowhawks Cina (Accipiter Soloensis) dan satu Nipon Sparrowhawk (A. Gularis). Selain itu, honeyton jambul yang berjerawat (Pernisptillo Asian Honey Rhyncus) juga kadang-kadang muncul dalam gelombang burung yang bermigrasi yang lewat di sana.

Sebuah misteri yang masih mengelilingi arah migrasi, mengundang keingintahuan para ilmuwan; mereka dapat terus terbang ke timur, melonjak melintasi lautanPulau Bali sampai Nusa Tenggara. Kadang mereka bahkan menyeberangi Laut Jawa, menuju ke utara sampai mereka mencapai Kalimantan atau Sulawesi.

Bali Barat terkenal dengan avifauna-nya. Kawasan konservasi ini dibangun untuk melestarikan habitat asli Bali Sterling, (Leucopar Rothschildi) yang asli ke Bali.

Di dekatnya dari Tegal Buner, Taman Nasional menyediakan fasilitas untuk bertema Bali Starlings, dengan tujuan membangun kembali Jalak Bali yang terancam punah. Habitat alami dari Jalak Bali awalnya terbentang dari Gilimauk sampai Bubunan, kira-kira 50km timur Taman Nasional. Pada akhir populasi mereka mendiami Teluk Brumbun dan Teluk Kelor, Semenanjung Prapat Agung.

Selain mengamati migrasi dan mengunjungi fasilitas konservasi Bali Starling, teman-teman saya dan saya juga menanam pohon di sepanjang jalan yang membentang melalui perkemahan. Dengan alasan pelari taman juga menanam rumput liar sebagai makanan bagi para rusa yang berkeliaran di sekitar taman. Kami juga menginap malam di perkemahan, tidur di tenda.

Biogeografi Bali terletak di ujung timur Sunda yang juga berbatasan dengan Kepulauan Nusa Tenggara. Meskipun jaraknya tidak jauh, hanya dengan Selat Lombok yang dalam dan sempit untuk memisahkannya, fauna yang ditemukan di Bali sangat berbeda dengan yang ditemukan di wilayah Nusa Tenggara. Inilah perbedaan yang mengilhami Alfred Russel Wallace untuk menarik garis tak terlihat (Wallace Line) melalui Selat Lombok, yang mengarah ke perairan Selat Makassar.

Selain kehadiran Jalak Bali, bukti lain yang memperkuat pulau ini sebagai bagian dari varietas Sunda adalah kehadiran Harimau Bali (Panthera Tigris Balica). Harimau bergaris ini adalah kerabat dari Harimau Sumatra (P. T. Sumatrae) dan Harimau Jawa (P. T. Sondaica)

Sayangnya, Harimau Bali telah punah sejak tahun 1925. Memori yang mengejutkan dari kehilangan ini hanya memotivasi kita untuk membantu melestarikan kontinuitas spesies Jalak Bali dan menandai langkah penting dalam upaya konservasi pulau-pulau. Nasib suram Harimau Bali tidak boleh jatuh ke Bali Starling.

 

National Geographic Indonesia

 

Oleh: National Geographic Indonesia (Zulfiq Ardi Nugroho)


Review 0