Lanting Paring Lewati Jeram Sungai Amandit di Festival Loksado 2019

Redaksi Pesona

27 November 2019

Kelihaian para joki dalam mengendalikan Lanting Paring (rakit bambu khas masyarakat Loksado) melewati jeram Sungai Amandit menjadi atraksi utama dalam gelaran Festival Loksado 2019 yang berlangsung pada 22 hingga 24 November 2019 lalu.  Festival Loksado merupakan bagian dari 100 Calendar of Event Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang kali ini memasuki tahun ke-2.

Dulunya, Lanting Paring digunakan para leluhur sebagai media transportasi air guna membawa hasil kebun dari hulu ke hilir untuk dijual memenuhi kebutuhan mereka. Para leluhur bisa menempuh perjalanan sampai satu hari penuh dari hulu ke hilir membawa hasil kebun mereka seperti getah karet, pisang, dan lainnya. Setelah tiba di hilir, bambu-bambu rakit tersebut dijual ke pengrajin bambu. Lalu pulang ke hulu kembali dengan berjalan kaki.

Karena latar belakang konten budaya berpadu dengan alam itulah, akhirnya Festival Loksado diusung sebagai event tahunan dan atraksi untuk menarik wisatawan ke sini. Tak hanya itu, atraksi budaya yang disajikan dalam rangkaian Festival Loksado 2019 pun terbilang unik.

Dalam dua tahun belakangan ini selain menyiapkan sebanyak 70 lanting paring, ada beberapa atraksi pendukung, yakni, sajian Mahumbal, Madihin, dan Kurung-kurung. Sajian Mahumbal adalah kuliner khas masyarakat Hulu Sungai Selatan berbahan dasar beras yang ditaruh di dalam daun pisang ditambah sayuran ataupun lauk daging yang dimasak menggunakan bambu.

Penampilan Madihin, sebuah genre puisi dari suku Banjar yang berasal dari kata madah dalam bahasa Arab yang berarti nasihat, tetapi bisa juga berarti pujian.

Sedangkan Kurung-kurung adalah salah satu jenis alat kesenian musik terbuat dari kayu panjang dan dibawahnya terbuat dari bambu dan peralatan lainnya. Musik ini bisa mengeluarkan bunyi setelah dihentakkan ke tanah, dan setiap alat musik mengeluarkan bunyi berbeda satu sama lain.

Karena basisnya adalah alam, maka selama pelaksanaan segala pendukung event tersebut diharapkan menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan, desain stand yang unik menggunakan bahan dari alam, sampai menghilangkan penggunaan plastik.

Foto: Dok. Kemenparekraf


Review 0