Festival Bekudo Bono 2019, Sajikan Sensasi Surfing di Sungai

Redaksi Pesona

07 November 2019

Festival Bekudo Bono merupakan event tahunan yang memikat puluhan surfer, tak hanya dari Indonesia tapi juga Australia hingga Amerika, mereka beradu kebolehan menari di atas gelombang Sungai Kampar. Tahun ini, Festival Bekudo Bono rencananya akan digelar pada 10-15 November 2019.

Bekudo Bono akan menyajikan beberapa point selancar yang akan dimulai dari  Pulau Muda, Tanjung Pebila, Suak Tunggal,  Muara Sungai Serkap, tempat di mana seventh ghost bisa dilihat. Julukan Seventh ghost diberikan Rip Curl saat membuat film selancar di bono. Kemudian ke Block F,  Tanjung Sendok,  Teluk Rimba Putus, dan Teluk Meranti. Teluk Meranti adalah finish dari gelombang bono.

Selama kurang lebih dua jam para peselancar akan menari di atas gelombang. Tinggi gelombang bisa mencapai kurang lebih 2 meter, dengan lebar gelombang mengikuti sungai.  Perlombaan bekudo bono dibagi atas dua kelas, yaitu professional dan lokal. Untuk lokal, mereka bermain di Teluk Rimba Putus, yang berjarak kurang lebih 30 menit dari Teluk Meranti.

Peselancar professional biasanya beraksi di Tanjung Pebila, menyambut gelombang Bono yang mulai datang pukul 10.30. Mereka turun ke sungai dengan diringi oleh jet ski dan rigid boat, dua moda trasportasi air ini berfungsi sebagai rescue.

Bono sendiri merupakan fenomena alam gelombang tidal bore. Gelombang ini terbentuk  dari benturan arus laut dengan arus di muara sungai Kampar. Pada saat bulan purnama ataupun bulan baru, permukaan laut di Selat Malaka menjadi naik dan melahirkan gelombang pasang yang menyapu masuk ke dalam sungai Kampar sejauh 50 sampai 60 km.

Ketika sisi depan dari gelombang masuk ke muara sungai yang menyempit dan bertemu dengan perairan dangkal sungai Kampar, lahirlah gelombang yang dikenal dengan sebutan Bono. Ketinggian bono dapat mencapai 2 meter dan melaju ke arah hulu  selama kurang lebih 2 jam dan nantinya menghilang dengan sendirinya.

Legenda Hantu 7 Anjing Laut

Gelombang Bono dalam sudut pandang seni tutur dari masyarakat Teluk Meranti ada beberapa versi. Di antaranya ada yang bercerita bahwa bono merupakan hantu anjing laut yang menarik gelombang ke arah sungai Kampar.

Karena Belanda saat itu tidak bisa masuk ke dalam muara sungai Kampar, pihak Belanda menembak gelombang dengan menggunakan meriam. Akibatnya, satu gelombang bono mati dan jumlahnya beerkurang dari 7 menjadi 6.

Gelombang bono bisa dilihat di Kampung Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, provinsi Riau. Kampung ini berjarak lima jam dari Kota Pekanbaru dengan menggunakan moda transportasi darat. Gelombang yang ditakuti pada zaman dahulu sekarang menjadi salah satu destinasi selancar unggulan di Indonesia. 

Foto : Bayu Made


Review 0