Memahami Karma di Ubud Writers and Readers Festival 2019

Redaksi Pesona

25 October 2019

Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2019 resmi dibuka pada malam Gala Opening yang berlokasi di Puri Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Malam Gala Opening dibuka dengan tari penyambutan dari Sekhaa Tabuh dan dilanjutkan dengan sambutan dari berbagai pihak termasuk Penglingsir Puri Ubud Tjokorda Gde Putra Sukawati dan Pendiri & Direktur UWRF, Janet DeNeefe.

“Banyak orang yang berkata bahwa kita perlu sebuah komunitas untuk menciptakan sesuatu. Seperti yang Anda lihat, itulah yang telah menciptakan Ubud Writers & Readers Festival. Kami merasa sangat berterima kasih karena komunitas di sini telah medukung kami. Saya harap Anda dapat menikmati empat hari ke depan dan benar-benar merasakan apa yang ditawarkan oleh Ubud,” ujar Janet DeNeefe dalam sambutannya.


Penghargaan Untuk Dongeng Bali
Selanjutnya, sambutan dilanjutkan oleh Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Management Calender of Events Kementerian Pariwisata Republik Indonesia Dra. Esthy Reko Astuty M.Si dan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Ardana Sukawati. Pada Gala Opening ini, UWRF juga kembali memberikan penghargaan sepanjang masa atau Lifetime Achievement Award kepada sosok sastra terpilih.

Penghargaan ini pernah diberikan oleh UWRF kepada Sapardi Djoko Damono pada tahun 2018 dan Almarhumah NH. Dini pada tahun 2017. Tahun ini, penerima Lifetime Achievement Award UWRF adalah Made Taro, seorang pedongeng legendaris asal Bali yang telah berjasa dalam melestarikan cerita rakyat dan dongeng lisan khususnya di Bali.

“Menerima penghargaan ini, saya terkejut sekaligus gembira. Namun, dalam hati saya juga bertanya-tanya apa sebabnya saya diberi penghargaan. Memang sudah 46 tahun saya berkarya, tapi mungkin sampai sekarang masih banyak kalangan masyarakat yang menganggap remeh,” ujar Made Taro.

Made Taro telah berkarya sejak tahun 1973 ini, dongeng-dongengnya sudah diterbitkan dalam sejumlah bentuk buku, lebih dari 40 buku. Dua dari buku-buku tersebut mendapat perhatian dari luar negeri, diterbitkan di Amerika Serikat dan Thailand. “Tahun ini, karya saya mendapat perhatian dari UWRF. Saya tambah semangat. Semoga dengan adanya penghargaan ini, saya menjadi lebih bersemangat berkarya. Jadi, UWRF membuat saya semangat sehingga saya lupa saya sudah tua,” tutup Made Taro yang disambut oleh tepuk tangan meriah dari para hadirin Gala Opening.

Secara khusus, UWRF menghadirkan panel diskusi mendalam bersama Made Taro dalam sesi A Lifetime of Storytelling pada Minggu (27/10/2019) pukul 15.45-17.00 WITA di Indus Restaurant. Di tengah gempuran gadget dan permainan digital yang sangat membuat ketagihan, Made Taro melakukan perjalanan ke seluruh Bali dan sekitarnya, mengajar anak-anak tentang keajaiban permainan, lagu, dan cerita rakyat nasional. Dalam panel tersebut, Made Taro akan mengisahkan hampir empat dekade perjalanannya dalam merayakan cerita rakyat dan dongeng lisan.

Setelah Made Taro menerima penghargaan, acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Cynthia Dewi Oka dan ditutup dengan pementasan tari Japatuwan yang dibawakan oleh kelompok tari Bumi Bajra dengan koreografer Dayu Ani. Main Program UWRF dihadirkan pada hari beikutnya, Kamis (24/10/2019) setelah Festival Welcome di NEKA Museum dari Janet DeNeefe, Guy Gunaratne, dan Nirwan Dewanto.

Main Program UWRF hadir mulai 24-27 Oktober di tiga venue utama, yaitu Festival Hub @ Taman Baca, Indus Restaurant, dan NEKA Museum. Berbagai panel diskusi menarik dengan berbagai topik dapat dinikmati pengunjung Festival, misalnya sesi Rise of the Tiger, Imagining the Past, Precious Peatlands, dan masih banyak lagi. Selain itu akan ada pula 100 lebih program lainnya seperti Special Events, lokakarya, lokakarya budaya, pemutaran film, pameran seni, peluncuran buku, pertunjukan musik, dan lainnya.

“Ketika kami merenungkan 16 tahun terakhir dan tentang bagaimana Festival telah berkembang menjadi salah satu acara sastra terbaik dunia, kami dapat menghargai maknanya sebagai wadah untuk pertukaran lintas budaya,” ujar Pendiri & Direktur UWRF Janet DeNeefe.

“Melalui tema Karma tahun ini, kami merayakan para penulis, seniman, dan pegiat dari seluruh Indonesia dan dunia yang sangat menyadari konsekuensi dari tindakan mereka, dan bagaimana konsekuensi tersebut akan berdampak pada masa depan kita bersama,” lanjutnya.

Jika Sobat Pesona menyukai kisah yang luar biasa, terbuka untuk ide-ide inovatif, ingin belajar lebih banyak tentang Indonesia dan sekitarnya, UWRF merupakan event sempurna. “Jika Anda percaya akan kekuatan kreativitas untuk menghasilkan perubahan yang nyata, maka datang dan nikmati keajaiban yang kini membuat UWRF lebih dikenal. Bagi banyak orang, UWRF telah mengubah hidup. Hal ini berlaku untuk saya, dan saya harap hal tersebut juga berlaku untuk Anda,” tutup DeNeefe.


Foto: Mikhael Naftali


Review 0