Musik Untuk Republik, Woodstock Indonesia untuk Persatuan

Redaksi Pesona

20 October 2019

Jujur saja, banyak yang membandingkan ajang Musik Untuk Republik di Buperta Cibubur tanggal 18-20 Oktober 2019 dengan Woodstock Festival. Bahkan, iming-iming penyelenggara pun sempat membandingkan acara ini dengan Woodstock Festival yang saat pertama digelar, diadakan di sebuah peternakan besar milik Max Yasgur di Bethel, New York tahun 1969.

Komponennya mirip-mirip. Ada musik, band-band berkelas, area konser luas, bazaar, dan juga perkemahan yang bisa ditempati oleh para pecinta musik.Dan, tujuannya adalah untuk menghadirkan perdamaian melalui musik.

Meski panitia terkesan berjanji terlalu muluk, apa yang saya lihat selama menghabiskan waktu di area Musik Untuk Republik ternyata menyenangkan. Di luar area bazaar yang so so, kualitas sound system cukup, dan barisan band yang rerata ngetop di awal 2000-an, ambience yang dimunculkan oleh event ini bolehlah dipuji.

Meski gratisan, konser Musik Untuk Republik tidak lantas menjelma jadi “keriaan lain” di Cibubur. Barisan pecinta musik, dari berbagai daerah, dari berbagai usia, berkumpul bersama di Buperta selama tiga hari penuh, dengan tujuan mendengarkan musik. Bersama-sama menikmati musik, dan memelihara semangat persatuan. Sesuai tema yang diusung.

Sama seperti di Woodstock Festival, banyak komunitas-komunitas di luar musik yang juga berdatangan. Mulai dari biker, yang kebetulan juga menggelar perkemahan di area Cibubur, hingga pecinta kuliner, menyempatkan diri berkumpul bersama di Cibubur.

Antusiasme itu juga terlihat sejak konser dimulai. Meski matahari masih tinggi, jarang sekali ada band yang harus tampil tanpa penonton. Paling tidak, 1/3 area konser sudah penuh terisi. Sehingga, band-band yang tampil di acara ini pun bersemangat tinggi saat tampil di panggung.

Dan serunya, meski gratisan, event ini berjalan lancar dan aman. Suasananya kondusif. Membuat orang tua tak ragu datang menonton musik bersama anak-anak. Wajar kalau hingga konser ditutup, yang rata-rata pukul 9, banyak anak-anak terlihat berkeliaran di area konser. Bahkan, saat band yang tampil di panggung masuk kategori “gahar” seperti Slank, Jamrud, dan PAS band.

Tim pengaman pun bertindak sangat ramah. Tidak represif, dan menyatu dengan penonton. Membuat suasana konser ini damai. Terlihat, semua bersatu, selama tiga hari, menjaga keamanan. Menjunjung tinggi persatuan, untuk Indonesia.

Whatta lovely concert. Semoga, bisa lebih banyak konser seru macam ini di Indonesia!


Foto: Junior Respati


Review 0