Konser Pejalan, 600 Peserta Meriahkan Tebing Keraton

Redaksi Pesona

17 September 2019

Lebih dari 600 peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia memadati area camping ground Tebing Keraton (14-15/09/19). Sejak hari sabtu pagi, peserta terlihat sudah berdatangan, beberapa terlihat datang dengan rombongan keluarga hingga komunitas, lainnya tak ketinggalan datang secara perorangan.

Warna warni dari beragam jenis tenda kemudian berdiri di antara pohon-pohon pinus yang menjulang, sebelum acara utama dimulai, keakraban suasana camping keluarga terasa intim di antara para peserta yang hadir. Satu sama lain saling berkunjung ke tendanya masing-masing hingga untuk bertukar kopi hingga bercengkrama di kesejukan suasana hutan Bandung Utara.

Menjelang sore, penyelenggara acara menyampaikan sambutan tanda Konser Pejalan secara resmi dibuka, para peserta kemudian diberi informasi tentang aturan kegiatan, diperkenalkan fasilitas kopi gratis, spot pameran dari beberapa komunitas, hingga fasilitas-fasilitas umum yang tersedia di area camping, khususnya terkait ketersediaan air minum, toilet, hingga sarana ibadah yang sudah tersedia dengan baik di camping ground Tebing Keraton.


Peserta dan Penonton dari Seluruh Indonesia
Acara utama Konser Pejalan dimulai saat hari mulai gelap, tepatnya pada pukul 19.30-an.  Panggung utama seketika dipadati peserta yang merangsek menuju area pertunjukan. Penampilan dari pembaca puisi yang disertasi performing art menjadi membuka acara, suasana teatrikal seketika terbangun di kedalaman hutan yang gelap. Para peserta larut dalam suasana dramatis sambil menikmati pertunjukan dengan ditemani kopi hangat.

Semakin malam acara semakin meriah, panggung utama dihidupkan oleh band-band indie yang menjadi pengisi acara utama, puncaknya Parahyena Band kemudian Satwa Liar Band menutup acara di hari dan malam pertama. Kedua band penampil terakhir menggebrak peserta dengan lagu-lagu yang sudah akrab ditelinga pendengar musik indie Bandung. Peserta pun turut bernyanyi bersama dalam lagu berjudul ‘Di Bawah Sinar Rembulan’, kemudian bernyanyi dan ber-joged bersama dalam lagu penutup berjudul ‘Cibaduyut’ milik Parahyena Band.

Menurut Hilman (25) wakil dari kelompok Nusa Layaran yang menjadi penyelenggara acara, talent yang berpartisipasi di panggung utama berjumlah lebih dari 30. Banyaknya jumlah pengisi acara tersebut membuat event konser ini nyaris berjalan tanpa jeda selama dua hari dan satu malam penuh. Karena itu, selepas seluruh peserta kembali ke tenda untuk beristirahat, keesokan harinya panggung utama sudah siap menyuguhkan hiburan lanjutan sejak pagi.

Kemeriahan pun berlanjut di hari Minggu sejak mentari belum lama terbit dari belakang panggung utama yang berada di ujung timur camping ground. Oleh penyelenggara acara, pengisi acara di hari minggu diisi oleh para talent yang cenderung membangun suasana ceria dan menghibur, kemudian ditutup oleh kegiatan yang tak kalah meriah berupa lomba panjat pinang.

Masih menurut Hilam, kegiatan lomba panjat pinang ini diselenggarakan selain untuk memeriahkan suasana kemerdekaan, juga untuk membangun ikatan di antara peserta yang datang hampir dari setiap pelosok Nusantara. Dari catatan penyelenggara acara, meski pun dominan berasal dari pulau Jawa, 600 peserta yang terregistrasi menghadiri acara juga berasal dari berbagai daerah lain di luar Jawa, khususnya: Ternate, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

Kehadiran dari peserta yang datang dari luar Jawa ini tidak bisa dipisahkan dari kiprah kelompok Nusa Layaran itu sendiri, sebelum menyelenggarakan konser pejalan di Bandung, selama tiga tahun lebih kelompok Nusa Layaran telah melakukan perjalanan ke berbagai pelosok di luar Jawa untuk kampanye perihal kelestarian alam. Dampaknya lingkaran yang terbangun oleh Nusa Layaran sangat besar mewakili luasnya nusantara yang kaya.

Melihat antusiasme peserta yang datang, bukan tidak mungkin acara semacam ini akan diselenggarakan annual, di samping dapat dijadikan acara untuk mensosialisasikan pentingnya menjaga kelestarian alam, melalui event ini juga diharapkan dapat memperkenalkan potensi keindahan alam di Bandung, Jawa Barat dan Indonesia pada umumnya, khususnya untuk dimanfaatkan dengan tetap menjaga kelestariannya.


Foto : Pepep DW


Review 0