Bromo Marathon 2019, Lari di Sepanjang Ketinggian Bumi Tengger

Redaksi Pesona

04 September 2019

Menikmati keindahan matahari terbit di balik gunung yang masih sering menyemburkan abu vulkanik, berkuda dan naik jeep di lautan pasir, serta menaiki ratusan anak tangga untuk mencapai pinggir kawah yang aktif mengeluarkan asap belerang, selalu jadi bucket list wisatawan yang mengunjungi Bromo. Tapi semua kegiatan itu terlalu mainstream buat saya yang sudah beberapa kali mengunjungi kawasan gunung yang terletak di 4 kabupaten, Malang, Lumajang, Pasuruan, dan Probolinggo tersebut.

Demi merasakan petualangan yang berbeda di Bromo, ratusan pelari mendaftarkan diri untuk mengikuti Bromo Marathon 2019. Sejak 2013, Bromo Marathon menjadi salah satu lomba lintas alam incaran banyak penyuka trail running di Indonesia. Setiap September, sekitar 1.500 pelari, termasuk dari luar negeri, berbondong-bondong mendatangi Bromo untuk mengikuti event tahunan yang digelar Pemkab Pasuruan dalam rangka hari ulang tahun kabupaten itu.


Jalur Sengsara, Tapi Luar Biasa Indah
Ratusan pelari dari dalam luar negeri, membanjiri Bromo demi sensasi berlari di trek pegunungan dengan ketinggian mulai dari 1.840 hingga 2.476 meter di atas permukaan laut (mdpl). Jalur larinya sungguh eksotik, mengelilingi desa-desa kecil yang mayoritas dihuni suku Tengger, sambil menikmati kesegaran udara dan pesona kecantikan alam di sekitarnya.

Ada empat kategori yang ditawarkan Bromo Marathon, yaitu 42K, 21K, 10K, dan untuk pertama kalinya di tahun ini, 5K. Jarak terjauh adalah kategori 42K, yang berjarak total 42,195 kilometer, dan harus ditempuh dalam waktu maksimal 8 jam! Berlari sejauh itu di daerah yang berbukit-bukit dan penuh dengan tanjakan tajam dan jalan setapak seperti Bromo, memang sungguh menantang, tapi pengalaman luar biasa!

Bendera start Bromo Marathon dikibarkan tepat pada pukul tujuh pagi dari Plataran Bromo, resor jaringan bintang lima pertama di kawasan Bromo yang berlokasi di Desa Tosari. Sekitar 100-an pelari di kategori 42K melintasi jalanan beraspal naik turun yang kemudian membelah perkampungan warga Tosari.

Memasuki Jetak-Sunogiri, rute lari berganti menjadi jalur tanah lembut yang menanjak terjal. Napas sudah pasti makin memburu, berusaha memasukkan sebanyak mungkin oksigen yang makin menipis. Ayunan kaki-kaki pelari pun melambat dan terasa tambah berat, karena harus mendaki sambil berlari.

Entah berapa tanjakan dan turunan yang terlewati dengan susah payah. Pelari 42K akhirnya memasuki wilayah Desa Banyumeneng, melewati area perkebunan dan pertanian masyarakat Tengger yang antara lain ditanami kentang, jagung, apel. Menuju Desa Ngadiwono.

Rute lari kembali berubah menjadi jalan setapak ber-conblock dengan bentangan luas pemandangan alam pegunungan, yang lantas membawa peserta maratonn memutari Desa Mororejo, sebelum memasuki Desa Mororejo Ngawu. Setelah melewati desa tersebut, perlahan tapi pasti, rute lari kembali menanjak, melalui jalan setapak hutan yang berdebu halus karena lama tak diguyur hujan.     

Akhirnya peserta Bromo Marathon tiba kembali di jalan beraspal, yang menuju sunrise view point Dingklik. Pemandangan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di sebelah kanan yang menyajikan Gunung Batok, kawah Bromo, lautan pasir, dan Gunung Semeru di kejauhan, menemani peserta berlari naik turun sepanjang jalan itu, sebelum kembali memasuki jalan setapak hutan.

Debu-debu halus berterbangan begitu dilintasi para pelari. Dari sini, rute lari terus menurun, hingga bertemu lagi dengan jalan ber-conblock, lantas jalan beraspal naik turun yang membentang hingga Desa Wonokitri, dan kembali ke Desa Tosari menuju finish di Plataran Bromo. What an adventure!

Mungkin ini namanya sengsara membawa nikmat. Petualangan seru yang belum tentu bisa dirasakan seandainya hanya mengikuti bucket list kebanyakan wisatawan yang ke Bromo. Dan kalau 42K terasa terlalu extreme buat Sobat Pesona, jangan ragu mengambil jarak lain di Bromo Marathon tahun depan, untuk juga menikmati sensasi berbeda dari pesona keindahan Bromo.


Foto : Imelda Suryaningsih


Review 0