Kecepatan Perahu Layar Suku Mandar di Festival Sandeq Race 2019

Redaksi Pesona

07 August 2019

Festival Sandeq Race 2019 segera digelar. Event budaya bahari Sulawesi Barat ini berlangsung selama 10 hari, dari tanggal 7-16 Agustus 2019. Acaranya berupa lomba perahu layar tradisional suku Mandar. Dilakukan mulai dari Kabupaten Polewali Mandar, hingga finish di Kebupaten Mamuju.

Jarak tempuh Sandeq Race harus diselesaikan memang cukup jauh, sehingga lomba digelar secara marathon. Dengan melalui sejumlah etape dan lomba segitiga, di mana setiap etape diisi beberapa rangkaian kegiatan di darat (teras Sandeq).

Bagi yang belum tahu, kapal Sandeq adalah kerajinan tradisional yang digunakan selama berabad-abad oleh para nelayan Mandar, Polewali, dan Mamuju. Kapal ini sering dipuji sebagai ‘kerajinan cadik tercanggih di dunia’ dan ‘kerajinan tercepat di dunia’.

Saat ini, perahu nelayan tradisional Mandar yang juga sering digunakan untuk transportasi itu telah ditetapkan sebagai ikon pariwisata Sulawesi Barat. Dalam pelayaran, Sandeq mengadopsi teknik zigzag melawan angin, dan dapat mencapai kecepatan hingga 15-29 knot.

Karena alasan inilah, Sandeq diakui sebagai perahu layar cadik tercepat di dunia. Bentuknya yang ramping dengan lebar mulai dari 1,5 hingga 2 meter, memungkinkannya bermanuver dengan cepat melalui gelombang. Penelitian juga menunjukkan bahwa Sandeq adalah kapal tangguh yang memiliki kelincahan untuk menghadapi angin kencang dan arus di laut lepas.

Festival ini rencananya diikuti 20 kapal Sandeq tercepat, bersama dengan 260 Passandeq atau pelaut Sandeq. Satu tim kapal Sandeq terdiri dari 13 kru. Perjalanan akan dimulai pada 11 Agustus dengan lomba Segitiga Polewali Mandar.

Pembukaan Festival Sandeq Race 2019 akan dimeriahkan dengan karnaval budaya, lomba lepa-lepa, Sandeq Kecu, dan pameran budaya Desa Sandeq. Di Majene sendiri akan ada sejumlah pertunjukan seni dan budaya, pesta kuliner etnis Mandar, dan pemutaran film dokumenter.

Festival Sandeq Race 2019 akan menampilkan keterampilan luar biasa dari para pelaut dalam mengendalikan perahu kayu. Tanpa bantuan teknologi modern, mesin, atau gadget navigasi saat mereka berusaha untuk saling beradu kecepatan.


Review 0