Merasakan Kemeriahan Adat di Bali Saat Hari Raya Kuningan

Redaksi Pesona

01 August 2019

Bagi yang dalam waktu dekat berlibur ke Bali pasti akan merasakan suasana yang sangat berbeda dari biasanya. Pasalnya, pada hari Sabtu, 3 Agustus 2019, masyarakat Hindu di Bali akan merayakan Hari Raya Kuningan. Menariknya, suasana Hari Raya Kuningan di Bali tidak hanya bisa kita rasakan pada tanggal 3 Agustus saja, loh! Karena perayaan Kuningan diawali dengan perayaan Galungan pada 25 Juli 2019 yang lalu.

Saat kita memasuki desa-desa hingga jalanan di Bali pasti akan ramai dengan penjor. Setiap rumah biasanya akan memasang penjor. Penjor biasanya terbuat dari batang bambu yang dihiasi dengan daun kelapa, padi, dan kotak khusus untuk sesaji yang disebut canang. Inilah awal dari perayaan Kuningan di Bali.

Pada Hari Raya Galungan, pagi harinya umat telah memulai upacara adat, biasanya dimulai dari persembahyangan di rumah masing-masing hingga ke Pura sekitar lingkungan. Mereka berdoa untuk para leluhur mereka yang telah meninggal dunia.

Galungan dimaknai sebagai perayaan kemenangan dharma (kebaikan) atas adharma (kejahatan). Menurut umat Hindu di Bali, saat Galungan para dewa turun ke Bumi, dan jiwa leluhur berkunjung ke keluarga mereka. O, iya, biasanya umat Hindu yang merantau ke luar daerah akan “Pulang Kampung”, untuk sembahyang ke tanah kelahirannya masing-masing.

Nah, sepuluh hari setelah Galungan, barulah masyarakat Hindu merayakan Hari Raya Kuningan. Saat inilah dipercaya oleh umat Hindu sebagai tahap peningkatan spiritual dengan cara introspeksi diri, yang bertujuan agar terhindar dari bahaya. Saat Kuningan, jiwa leluhur yang saat Galungan turun ke Bumi akan kembali ke tempat asalnya.

Pada hari Kuningan, umat Hindu Bali membuat nasi kuning sebagai lambang kemakmuran. Lalu dihaturkan sesaji sebagai tanda terima kasih, karena telah menerima anugrah dari Hyang Widhi, berupa bahan-bahan sandang dan pangan. Di dalam tebog atau selanggi yang berisi nasi kuning tersebut dipancangkan sebuah wayang-wayangan yang melimpahkan anugerah kemakmuran kepada umat manusia.

Sesaji juga disimbolkan sebagai tamiang dan endongan. Tamiang memiliki makna lambang perlindungan dan perputaran roda alam yang mengingatkan manusia pada hukum alam. Sedangkan Endongan bermakna perbekalan. Bekal yang paling utama dalam mengarungi kehidupan adalah ilmu pengetahuan dan bhakti (jnana).

Perayaan ini juga dimaksudkan agar umat selalu ingat kepada Sang Pencipta, Ida Sang Hyang Widi Wasa, dan mensyukuri karunia-Nya. Melalui perayaan Kuningan umat juga dituntut selalu ingat menyama braya (bersaudara), meningkatkan persatuan dan solidaritas sosial.

Intinya, tujuan pelaksanaan upacara kuningan ini adalah untuk memohon kesentosaan, perlindungan,  serta tuntunan lahir dan batin.

Nah, jadi kalau ingin melihat kemeriahan Hari Raya Kuningan di Bali, bisa datang pada Sabtu, 3 Agustus 2019. Tapi perlu diingat, kita juga harus menghormati umat Hindu yang sedang beribadah saat Hari Raya Kuningan.


Review 0