Legenda Gua Kreo Bikin Libur Lebaran di Semarang Meriah

Redaksi Pesona

11 June 2019

Semarang menyajikan kekayaan budaya dalam libur Lebaran tahun ini. Ada Tradisi Budaya Sesaji Rewanda dan Mahakarya Legenda Gua Kreo, yang digelar pada Minggu, 9 Juni 2019 lalu. Dua agenda tersebut menguatkan status Semarang sebagai Full History Storytelling Pengembangan Heritage Tourism.

Tradisi Budaya Sesaji Rewanda digelar di Pelataran Gua Kreo mulai pukul 08.00 WIB. Parade budaya lalu dilanjutkan Mahakarya Legenda Gua Kreo di Plaza Kandri Waduk Jatibarang mulai pukul 19.00 WIB.

Event ini sangat meriah. Antusiasme yang ditunjukan wisatawan luar biasa. Mereka sangat menikmati beragam konten yang disajikan. Ada pesan khusus yang diusung dalam kegiatan ini. Kita diingatkan tentang potensi besar wisata sejarah dan warisan budaya milik Kota Lumpia. Konsepnya melalui seni drama, suara, musik, dekoratif, tarian, dan napaktilas. Tapak tilasnya dilakukan di Watu Tenger, yaitu Petilasan Sunan Kalijaga. Ada juga atraksi kirab Soko Jati dan sesaji pada kera.

Gua Kreo memiliki legenda yang terus hidup. Sebab, destinasi ini menjadi petilasan 4 sunan. Ada Sunan Kalijaga, Ampel, Bonang, dan Gunungjati. Cerita pun dikembangkan. Pada awal pembangunan Masjid Agung Demak, Sunan Kalijaga mencari kayu untuk dijadikan saka guru atau tiang utama. Namun, ada pohon yang tidak bisa ditebang. Sunan Kalijaga pun bersemedi dalam gua.

Ketika bersemedi itulah, ada 4 ekor kera yang menghampirinya. Uniknya warna kera-kera itu berbeda-beda. Ada kera dengan warna hitam, putih, merah, dan kuning. Dari komposisi tersebut, tersirat makna. Hitam menjadi simbol kesuburan tanah, lalu putih melambangkan kesucian. Adapun warna merah jadi makna keberanian dan kuning yang berarti angin.

“Semarang menjadi destinasi yang wajib dikunjungi. Kota Semarang menawarkan banyak aktivitas dan experience. Semuanya menjadi daya tarik yang luar biasa, seperti Gua Kreo ini. Destinasi Gua Kreo sangatlah unik dengan beragam cerita yang menyertainya,” ucap Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional II Kemenpar, Adella Raung.

Cerita Gua Kreo pun berlanjut. Kawanan kera itu lalu mengajak Sunan Kalijaga ke sebuah tempat. Setelah bermunajad, ilham pun datang. Pohon tersebut bisa ditebang dengan menggunakan selendang yang dibawanya. Usai menebang pohon, Sunan Kalijaga pun berencana kembali ke Demak. Namun, kera tersebut meminta ikut. Sang sunan pun akhirnya meminta kera menjaga Gua Kreo tersebut.

Seiring waktu, masyarakat percaya bahwa kera-kera di kawasan Gua Kreo memiliki keterikatan sejarah. Mereka adalah keturunan 4 kera yang membantu Sunan Kalijaga. Demi melestarikan budaya di sana, maka setiap tahun diadakan pagelaran Mahakarya Legenda Gua Kreo. Harapannya tradisi dan budaya yang ada tetap terjaga.

“Semangat yang diusung Semarang untuk memajukan pariwisatanya harus diapresiasi. Mereka terus menawarkan konten terbaik. Tradisi Budaya Sesaji Rewanda dan Mahakarya Legenda Gua Kreo adalah daya tarik luar biasa. Ke depannya, inovasi harus terus dijalankan. Branding juga dikuatkan agar arus wisatawan semakin optimal,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya.


Review 0