Hujan Tak Sanggup Redupkan Kemeriahan Samosir Sigale-Gale Carnival 2019

Redaksi Pesona

09 June 2019

Mendung bergelayut di langit Samosir. Rintik hujan mulai membasahi persimpangan jalan ke Desa Gorga dan Jalan Raya Simanindo-Tomok yang ditutup untuk event Samosir Sigale-Gale Carnival. Anak-anak hingga orang tua mulai ramai memadati jalanan. Tak hanya warga desa, tapi juga wisatawan Nusantara dan mancanegara.

Samosir Sigale-Gale Carnival 2019 dimulai dengan tarian dan hentakan musik tradisional yang menggelora, diikuti iring-iringan becak bermotor khas Samosir. Mirip becak motor yang ada di Sumatera umumnya, namun jenis motor yang digunakan dan desain becak dimodifikasi sesuai tuntutan daerah wisata.

Ritme musik berganti menjadi menegangkan seiring dengan masuknya 6 orang penari yang melakonkan sebagai Sibaso atau datu yang merupakan dukun sakti dalam budaya Batak. Kurang lebih 2.000 pengunjung terkesiap. Sekejap musik berhenti begitu Sibaso berlalu dari hadapan pengunjung dan musik band yang mengiringi tarian dan iring-iringan sebelumnya diganti dengan musik asli Batak.

Enam penabuh taganing (gendang khas Batak), dua peniup sarunai (seruling Batak) dan dua pemukul gong meliuk-liuk di atas karpet merah sepanjang 100 meter. Berhenti sejenak di depan Bupati Samosir, Rapidin Simbolon dan tim SKPD Samosir, jajaran DPRD Samosir serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Samosir.

Devile dilanjutkan 50 orang penari dengan berbagai corak ulos khas Samosir. Setelah menari di hadapan para pengunjung, karnaval kemudian menghadirkan berbagai corak pakaian pengantin. Kali ini tidak hanya yang asal Batak saja, namun termasuk sub etnis seperti Karo, Mandailing, Angkola, Dairi dan Simalungun.

Lomba fashion show yang diikuti 21 orang peserta Sekolah Dasar, 23 orang peserta setingkat SMP, dan 20 orang peserta setingkat SMA dengan pakaian bernuansa dan berbahan dasar ulos menambah meriah suasana walau mendung masih terus menggantung. Apalagi disusul fashion show berbahan dasar ulos yang diramaikan oleh puluhan model cantik dari J Fashion Carnival (JFC).

Pada puncak acara, empat orang pemuda mengusung patung Sigale-Gale. Sarunai kembali ditiup dan Sigale-Gale pun mulai menari. Delapan Sigale-Gale besar bergerak dalam tarian Tortor. Sementara ada 2 Sigale-Gale yang diusung oleh delapan orang meliuk-liuk di karpet merah. Total ada 14 Sigale-Gale yang diusung puluhan pemuda Samosir. Hal ini membuat pengunjung larut dalam kemeriahan walau hujan semakin lebat dan baru berhenti ketika devile Sigale-Gale selesai.

Tahun ini merupakan tahun keempat pelaksanaan Samosir Sigale-Gale Carnival. "Harapan kita carnival ini bisa seperti The Puppet World Festival. Dan The Puppet World Festival kita harapkan bisa hadir di sini. Untuk itu, kita sudah membangun komunikasi ke panitianya," ujar Charles Malau, pelaksana kegiatan sekaligus pemilik ide tentang Samosir Sigale-Gale Carnival, Sabtu (8/6) lalu.

Harapan serupa juga disampaikan oleh Bupati Samosir, Rapidin Simbolon. Menurutnya, Sigale-Gale sebagai boneka khas Samosir dan warisan kebudayaan ini harus dijadikan modal pengembangan kepariwisataan Pulau Samosir.

Secara sejarah, boneka Sigale-Gale ini memiliki kisah tersendiri dan banyak versi. Salah satunya, kisah seorang raja yang berharap dapat menghidupkan kembali anak yang sangat disayanginya dengan mengumpulkan para datu, tapi gagal.

Kemudian para datu membuatkan boneka dari kayu yang dapat menari. "Inilah yang kemudian menjadi pengganti anak raja yang mati. Sigale-Gale diyakini lahir dari seorang seniman lokal di Desa Garoga ini," ujar Charles.

Samosir Sigale-Gale Carnival 2019 digelar dengan tema Beauty of Ulos. Pemerintah Daerah Samosir ingin mendorong ulos sebagai salah satu warisan budaya Batak terkenal di dunia. "Itu sebabnya kita sudah memasukkan karnaval ini menjadi salah satu kalender kegiatan tahunan Pemerintah Samosir di antara 8 kegiatan tahunan lainnya," tambah Rapidin.


Review 0