Mengintip Persiapan Seba Baduy 2019

Redaksi Pesona

04 May 2019

Event Exciting Banten on Seba Baduy 2019, hari ini 4 Mei 2019 memasuki puncak acaranya. Masyarakat Kanekes atau Baduy melakukan long march, turun gunung membawa berbagai hasil bumi. Long march ini sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi yang melimpah, merupakan event budaya istimewa.

Rangkaian Seba Baduy 2019 sendiri telah bergulir dari tanggal 29 April 2019 dan berakhir pada 5 Mei 2019. Berbagai acara pendukung digelar selama 7 hari, berpusat di Kabupaten Lebak, Banten sebagai atraksi wisata yang menarik. Nah, Pesona Travel sempat sedikit mengintip persiapan masyarakat Baduy, sehari sebelum digelarnya acara Seba.


Long March Baduy - Pendopo Lebak
Dari terminal Ciboleger, menyusuri kampung-kampung di Baduy Luar hingga kampung Gajeboh. Kampung ini berada persis di sebelah sungai yang cukup jernih dan jembatan bambu yang membentang. Di masa persiapan Seba Baduy ini, sepanjang perjalananan kita akan sering sekali berpapasan dengan iringan masyarakat Baduy Dalam, membawa hasil bumi mereka.

Cukup mudah mengenali warga Baduy Dalam, baju dan juga ikat kepala putih menjadi penandanya. Mereka datang dari desa atau kampung yang ada di Baduy Dalam, yaitu Cikeusik, Cikertawana dan juga Cibeo. Warga Baduy Dalam ini dikenal dengan sebutan Urang Jero. Ini yang membedakan mereka dengan warga Baduy Luar atau Baduy Pendamping yang berbusana hitam dan memakai ikat kepala biru.

Hasil bumi yang mereka bawa diantaranya, padi, gula aren, pisang, sayuran, dan juga palawija. Mereka  menginap di rumah Jaro Saija yang disebut sebagai Jaro Pamarentah. Ia adalah orang yang bertugas sebagai penghubung masyarakat adat Baduy dengan pemerintah resmi yang berada di Baduy Luar.

Oya, Seba Baduy merupakan rangkaian akhir dari ritual suku Baduy setelah sebelumnya mereka melakukan ritual Kawalu dan Ngalaksa. Pada puncak acara Seba Baduy (4 Mei), ratusan masyarakat baik Baduy Dalam dan Luar akan berarakan membawa hasil menuju Pendopo Pemkab Lebak.

Untuk Urang Jero, sesuai dengan aturan adat yang tidak membolehkan  menggunakan kendaraan, mereka akan berjalan kaki kurang lebih 40 km menuju lokasi. Tidak heran, mereka telah bergerak sejak Sabtu dini hari. Tradisi leluhur yang selalu menarik untuk disimak. Tunggu kelanjutannya…


Foto : Kodjang


Review 0