Wow, 500 Penari Langsung Gebrak Konser Musik Malaka 2019

Redaksi Pesona

26 April 2019

Pesona kuat ditawarkan Konser Musik Perbatasan Malaka dan Kefamenanu (KMP-MK) 2019. KMP-MK 2019 menawaran warna tradisional melalui gelaran 3 tarian kolosalnya sekaligus. Tari Tebe, Likurai, dan Bidu disandingkan dengan warna kontemporer konser musik dengan 500 penari yang sangat menghebohkan.

KMP-MK 2019 resmi digelar 24-25 April 2019 lalu. Venuenya tetap berada di Lapangan Paroki Kamanasa (MISI), Betun, Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Konten utamanya ada Penyanyi Timor Leste; Maria Vitoria, dan Bondan Prakoso asal Indonesia. Panggung glamor KMP-MK 2019 semakin meriah dengan 3 tarian Tanah Timor.

Menjadi suaka seni budaya, KMP-MK 2019 menampilkan Tari Tebe, Likurai, dan Bidu. Ketiganya ini adalah identitas Tanah Timor. Ada banyak nilai histori besar yang dimiliki tarian tersebut.

Menjadi value tinggi bagi KMP-MK 2019, inspirasi memang ditiupkan Tari Bidu. Tarian tersebut dikenal sebagai media untuk mencari jodoh. Tanah Timor memiliki beberapa tahap menuju jenjang pernikahan. Ada Hameno Bidu yang bermakna kesepakatan sekaligus perencanaan awal menuju pelaminan. Tahap berikutnya adalah Binor, yaitu pertukaran cenderamata yang dilanjutkan Mama Lulik atau peminangan.

Usai dipinang baru dilanjutkan ke tahap Mama Tebes. Ini adalah moment membicarakan tanggal nikah. Dan, secara umum Tari Bidu dibawakan oleh 8 penari putri dan 1 atau 2 penari putra. Gerakan Tari Bidu bagi putra didominasi rentangan tangan dan memutar badan. Untuk penari putri didominasi oleh gerak lembut tangan. Posisi kakinya jalan di tempat. Hal inijadi simbol keanggunan putri Tanah Timor.

Bagaimana dengan Tari Tebe? Publik bahkan dunia sangat familiar dengan Tari Tebe. Tarian tersebut bisa diasumsikan sebagai Tari Ronggeng. Pada zaman dahulu, Tari Tebe ini menjadi ungkapan kegembiraan kala Meo pulang dari medan perang. Tarian ini menjadi ungkapan kegembiraan. Tebe ini dibawakan dengan lantunan syair dan kananuk (pantun).

Tari Tebe ini pernah memecahkan rekor MURI pada Oktober 2015. Waktu itu, Tari Tebe dibawakan oleh 4.601 penari. Memperingati HUT ke-99 Atambua, Belu, Tari Tebe dibawakan pelajar dan instansi terkait. Sembari menari, mereka pun membentuk formasi angka 99. Popularitas Tebe ini pun serupa dengan Tari Likurai. Tari Likurai bahkan digunakan sebagai opening ceremony Asian Games 2018.

Rapor fenomenal juga dibukukan tarian tersebut. Tari Likurai pernah masuk rekor MURI, Oktober 2017. Tarian ini dibawakan oleh 6.000 penari di Bukit Fulan Fehan. Background penarinya adalah pelajar dari 3 kabupaten di zona crossborder NTT.

Filosofi tinggi juga dimiliki Tari Likurai. Tarian ini jadi ungkapan rasa gembira. Tari Likurai dibawakan masing-masing 10 penari pria dan wanita. Gerakannya khas. Gerak tubuh antara penari pria dan wanita berbeda. Gerak penari wanita didominasi oleh gerakan tangan yang memainkan kendang. Kedua kakinya pun menghentak bergantian. Tubuhnya melenggak ke kanan dan kiri sesuai irama.

Bagaimana dengan penari pria? Gerakan penari pria didominasi permainan pedang. Posisi kedua kaki juga sama-sama menghentak hingga terlihat dinamis. Dinamika menjadi berwarna karena ada gerakan merunduk dan berputar. Kiki menambahkan, prestasi besar banyak dibukukan oleh Tarian Likurai dan semuanya semakin menegaskan nuansa eksotis.

“Semua nilai kebaikan ditampilkan di KMP-MK 2019. Komposisinya luar biasa. Artisnya ada Maria Vitoria dan Bondan Prakoso, lalu ada 3 tarian terbaik Tanah Timor. KMP-MK 2019 jadi pesta yang luar biasa. Bukan hanya atraksinya, aksesibilitas dan amenitas menuju Malaka juga bagus. Kami tunggu Anda di Malaka. Enjoy Tanah Timor,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya.


FOTO: DOK. KEMENPAR


Review 0