Muara Market, Pentagon Wisata Kreatif di Kota Solo

Redaksi Pesona

12 December 2018

Selang sehari setelah konser Megadeth di Yogyakarta Bersama Seringai, God Bless, Edane dan sebagainya, saya bersama keluarga kecil saya kemudian bergerak menuju Surakarta (nama  formal Solo) untuk menghadiri sebuah sesi temu wicara dalam rangka merayakan Hari Sumpah Pemuda ke-90 tahun di sana, tepatnya di Muara Market.

Firman Bollie, kawan saya yang mengundang untuk acara ini menjelaskan bahwa kelas CBSA (Cara Belajar Skena Aktif) ini nantinya akan diadakan di Muara Market. “Itu community hub gitu, mas, di Solo. Kebetulan aku di manajemennya hehe,” jawabnya saat merespons kebingungan saya tentang Muara Market. Walaupun keturunan langsung Van Bekonang, namun yang namanya Muara Market ini baru pertama kalinya saya dengar.

Setelah sempat memercayakan teknologi sepenuhnya untuk memandu namun tetap tersesat di jalan (hingga ke Pasar Gede), akhirnya kami berhasil mendarat dengan selamat di Muara Market di Jalan Lumban Tobing, Solo. Letaknya berseberangan persis dengan Pasar Legi yang sangat bersejarah itu. Masuk ke dalam saya segera terkesima dengan Muara Market.

Jika biasanya bangunan ruko berlantai dua itu dibangun berjejer, maka di Muara Market ini berbeda. Bentuk bangunannya jika dilihat dari atas ketinggian mirip dengan benteng The Pentagon (markas besar Departemen Pertahanan AS), lengkap dengan plaza di tengahnya.

Pada siang itu suasana Muara Market cukup semarak. Sekitar ratusan orang sudah berkumpul di sana, panggung lengkap dengan tata suara, tata cahaya dan tata visual juga sudah terpasang rapi. Di sudut kedai ada yang nongkrong santai sambil makan dan minum, asyik bercengkerama. Sementara tujuan saya ke sini adalah bergabung dengan kerumunan orang yang tengah duduk santai di bekas ruangan ruko penuh mural yang agaknya sengaja dibobol sebagai “kelas perkuliahan”.

Awalnya ruko-ruko yang dibangun berseberangan dengan Pasar Legi ini sempat mangkrak selama lebih kurang 8 tahun, nyaris gagal secara komersial saat dipasarkan. Di saat itulah Tatuk Bersama timnya menawarkan ide untuk mengambil alih tempat ini untuk dirancang sesuai visi konsep kreatifnya.

Menurut Tatuk lagi, memiliki ruang seperti Muara Market di Solo adalah imajinasi dan mimpinya. Dari semua pengalaman di masa lalu, ia memahami dan juga merasakan bahwa energi kreatif di kota ini sangat besar dan liar karena ia ikut terlibat langsung di dalamnya. Tapi masalahnya adalah para pelaku itu masih sendiri-sendiri dan belum saling terkoneksi. Mereka juga sering mengalami penolakan di wilayah formal seperti area pemerintahan dan kampus.

“Dengan membuat Muara, saya berharap bisa memotong banyak sekali simpul birokrasi yang tidak perlu. Muara didesain sebagai tempat di mana semua orang bisa saling berekpresi dan berkolaborasi dengan satu aturan baku: saling menghargai antar sesama,” imbuh mahasiswa DO dari DKV FSRD UNS angkatan ’98 tersebut terkait misi utamanya.

Teks & Foto: Wendi Putranto


Review 1


Muara Market, Pentagon wisata yang unik dan kreatif berbeda daripada yang lain

Upik Hidayah