Menjaga Kelestarian Tukik di Pulau Sangalaki

Redaksi Pesona

08 December 2018

Sangalaki Resort, tempat kami menghabiskan waktu 3 hari 2 malam di pulau ini. Hanya ada beberapa bangunan saja di tempat seluas 16 hektar, yang cukup kita kitari dalam 15 menit berjalan kaki.

Airnya begitu bening dan dangkal, dari depan club house, di atas pasir putih, pemandangan ke barat di temani oleh deretan papan kayu panjang sebagai dermaga, dan di Timur 2 menara suar di atas air berkerlap kerlip kala malam tiba, mengingatkan para pelaut akan air yang begitu dangkal, namun dalam akan kehidupan di bawahnya.

“Mereka (tukik) di mana-mana, semalam ada yang di bawah resor kita ini, berjalan memencar ke sana kemari,” ujar Rozak, teman seperjalananku. Para penyu mungkin sudah toleran terhadap manusia di sini. Mereka tak malu bertelur, bahkan di depan kamar resor pun.

Mungkin mereka menganggap manusia di Pulau Sangalaki induk tirinya, yang sewaktu kecil membawa mereka dari sarang penetasan telur ke tempat yang lebih aman dari pemangsa, dan melepaskan mereka di waktu yang tenang pula.

Tukik penyu hijau ini terus melakukan gaya renangnya, matanya besar dengan mukanya yang lonjong kecil, bersama paruhnya yang runcing ke bawah. Cangkangnya berwarna hijau tua, samar berpola segi enam yang sepintas simetris, bagian abdomennya berwarna putih dengan pola segi empat teratur.

Tak berdaya, tampangnya seakan mengiba untuk membiarkan mereka ke lautan lepas. Tapi tidak sekarang, tidak siang hari. Karena kemungkinan selamatnya begitu kecil, para pemangsa yang telah menunggu dari segala penjuru, siap dengan hidangan istimewa ini.

Satu ember besar Tukik akan kami lepaskan di pantai bagian Timur Pulau Sangalaki pada saat malam tiba. Memberikan mereka kesempatan lebih banyak untuk bertahan hidup, lebih besar, lebih kuat, dari mereka yang sekarang.

Dari bawah pasir pun muncul kehidupan baru, begitu kecil, begitu lucu, sebuah harapan keberlangsungan hidup satu spesies yang berjuang demi keseimbangan. Muka kecil mereka muncul terlebih dahulu, bersama cangkang hijau kecil itu, meronta dan berlomba menuju deburan ombak.

Sesekali mereka menengok ke tempatnya dilahirkan, mengingat koordinat tempat itu dengan bantuan alam, mengingat untuk kembali, saat waktunya mereka harus meneruskan kehidupan baru nantinya.

Inilah pengalaman saya melihat langsung tukik-tukik di Pulau Sangalaki yang hingga kini terus dijaga kelestariannya.

Foto: Bima Prasena


Review 2


Sangat jarang penyu dapat bertahan hidup hingga dewasa, ayo kita jaga perairan dan laut Indonesia dengan tidak membuang sampah ke laut

Eddy Supriyadi


Penyu merupakan salah satu hewan yang wajib dilindungi, mari lestarikan dan ikut berpartisipasi menjaganya

Adnan Yollanda