Mencari Ubur-ubur yang Tersembunyi di Danau Haji Buang

Redaksi Pesona

05 December 2018

Berawal dari berperahu di Sungai Kelay, Berau yang menyuguhkan pemandangan sungai besar khas Kalimantan, kami melewati beberapa pemukiman, kapal-kapal batubara dengan onggokan benda hitam menggunung di punggungnya menjadi objek kontras di atas air coklat.

Keluar dari muara Sungai Segah, lautan menyambut dengan pemandangan bagan-bagan yang tertancap dengan bambu, airnya biru tua pertanda tak dangkal, tapi riak putih perahu kami meninggalkan jejak di antara ombak, menggurat dengan berani lukisan biru lautan dan angkasa.

Setelah 2 jam perjalanan menggunakan perahu cepat bermesin ganda dari Berau, akhirnya saya bisa menikmati keindahan surga Maratua yang sudah mendunia. Memang tak salah kalau semua bilang di sinilah potongan puzzle dari surga.

Kecamatan Maratua memayungi beberapa desa kecil, yang terdekat dengan Paradise Resort adalah Desa Teluk Harapan. Masuk ke sini, serasa berada di daerah koboi, jalan besarnya terhampar putih pasir pantai, rumah-rumah penduduk yang sebagian besar punya teras cukup luas, berjajar sepanjang jalan yang muat untuk ukuran 2 mobil besar.

Perairan Pulau Maratua tidak cuma eksotis di pemandangannya saja, bahkan empat gugusan pulau: Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki lebih saya kenal sebelumnya sebagai spot selam terbaik setelah Raja Ampat.

Danau ubur-ubur tak bersengat yang awalnya hanya terkenal di Kakaban, pun ternyata ada di sini. Proses pembentukan danau jutaan tahun yang unik, memaksa hewan tak bertulang ini pun merubah hidupnya dengan evolusi.

Tak banyak yang tahu kalau Maratua punya danau serupa dengan Pulau Kakaban, Danau Haji Buang namanya. Danau ini terletak di sebuah desa bernama Payung-payung, berada dalam kawasan 8 hektar kebun milik warga desa tersebut, dan diberi nama seperti pemiliknya. Sugiyono, pewaris gen Haji Buang, yang sekarang mengelola tempat ini, usahanya tak sekadar menunggu tiket masuk pengunjung yang kebetulan tahu keberadaan danau ini, tapi memanen kopra dan menjualnya hingga ke pulau Sulawesi.

Di antara bebatuan yang menyambut sebelum kami menceburkan diri di air hijau yang sepi pengunjung ini, saya mulai menyiapkan kamera underwater. Cuma kami berempat yang sedang sibuk bersiap menyelam, sisanya cuma pepohonan yang sedang asik bercanda dengan angin.

"Mana ubur-uburnya??" Saya membuka mata selebarnya mencari bentuk transparan yang mengambang. Tapi tak ada. Beberapa menit menyelam dengan peralatan snorkeling yang kami bawa susah payah ke tempat ini dengan kamera underwater yang sangat berat, memberi alasan supaya kartu compact flash kamera harus terisi gambar ubur-ubur Danau Haji Buang.

Kucelupkan sekali lagi google-ku ke air hijau keruh itu. Mereka pun bermunculan! Jika dihitung setidaknya ada 3 jenis ubur-ubur di situ. Puas! saat itu dengan gambar detail ubur-ubur yang oleh lensa makro underwaterku terekam dengan baik.

Foto: Bima Prasena


Review 1


Ubur-ubur yang berbeda di Haji Buang

Adnan Yollanda