Festival Kora Kora, Ternate Hidupkan Wisata Bahari

Redaksi Pesona

03 December 2018

Nama Ternate sudah sangat terkenal sejak jaman baheula. Daerah ini ramai sejak awal abad ke-13, ketika berhubungan dengan para pedagang yang datang dari segala penjuru dunia untuk mencari rempah-rempah. Pelabuhan Ternate menjadi jalur lalu lalang perahu dari berbagai negara. Kini Pemerintah Kota Ternate mencoba kembali mengangkat kekayaan baharinya lewat Festival Kora Kora.

Wakil Walikota Ternate Abdullah Taher, ketika membuka Festival Kora Kora di kawasan Landmark Kota Ternate, menyebut daerah ini kaya akan potensi wisata daerah. Baik itu wisata alam, wisata bahari, sejarah, budaya, serta beberapa jenis wisata disebutnya merupakan berkah dari Allah SWT yang patut disyukuri. Termasuk dengan menggelar Festival Kora Kora.

"Sebagai daerah kesultanan, modal utama pariwisata Kota Ternate adalah kebudayaan yang berakar pada spiritualitas adat setempat dan warisan sejarah negeri ini," terangnya.

Festival Kora-kora 2018 digelar dengan agenda utama lomba perahu tradisional Ternate, Kora-kora yang dilaksanakan selama tiga hari Sabtu hingga Senin (1-3 Desember). Sedikitnya ada 43 tim yang terdiri dari 22 peserta lomba Kora-kora dan 21 tim lomba kano, dan dayung yang dibagi jadwal lombanya dalam tiga hari.


Perahu Perang Ternate
Puluhan perahu dengan layar aneka warna, terlihat perlahan-lahan mendekati perairan depan Landmark Kota Ternate. Para pimpinan perahu ternyata adalah semua lurah di Kecamatan Hiri, Kota Ternate. Ratusan penonton yang beberapa jam sebelumnya sudah memenuhi spot favorit warga kota ini, lantas bersorak-sorai memberi aplaus. Parade perahu hias tersebut menjadi penanda digelarnya Festival Kora-kora 2018.

Kora-kora adalah nama perahu yang digunakan pasukan perang Ternate ketika mengusir penjajah kala itu. Hingga kini, perahu tradisional tersebut masih jadi kebanggaan warga Maluku Utara karena dapat membangkitkan kembali semangat perjuangan.

Kecintaan masyarakat terhadap sejarah dan budaya daerahnya, membuat festival perahu tradisional ini menjadi meriah, ditonton ratusan warga maupun pelancong yang memadati area sejak siang. Apalagi eventnya digelar pada akhir pekan.

"Kami sudah di lokasi ini sejak jam 13.30, karena dapat info lomba Kora-kora akan dimulai jam 14.00. Ternyata baru dimulai jam 17.00," ujar Noni, salah satu penonton asal Jakarta, yang kebetulan bersama rekannya sedang ada tugas kantor di Kota Ternate.

Selagi menunggu perlombaan dimulai, pengunjung mengisi waktu dengan melihat-lihat aneka kuliner tradisional, menikmati view laut Ternate yang cantik atau suguhan tarian Tuanku Kemana. Tarian ini menggambarkan episode perjuangan para pahlawan nasional asal Maluku Utara dan peran vital Kora-kora ketika itu.

Suara tetabuhan genderang di masing-masing perahu dan sorak-sorai serta tepuk tangan penonton sepanjang pantai Landmark Ternate membuat lomba yang berjarak sekira dua kilometer dengan finish di Pantai Dodoku Ali, persis depan Kedaton (Keraton) Kesultanan Ternate ini tambah semarak.

Hari pertama, ada tiga Kora-kora yang yakni Tim Grand Dafan Hotel, Tim Kodim Kota Ternate , Tim Horukie dan Tim Muara Hotel, yang berada pada Group B. Tim lainnya yang terbagi dalam group A, group C, group D dan group E, memulai lomba pada Minggu (2/12/2018) dan Senin (3/12/2018).

Foto : Embong Salampesi


Review 1


Festival Kora-Kora di Ternate sangat kental dengan kebudayaan daerah

Adnan Yollanda