CFD Jakarta Akan Dimeriahkan Budaya Jawa

Redaksi Pesona

29 November 2018

Pesona Borobudur akan hadir di Car Free Day Jakarta, pada Minggu 9 Desember 2018, mulai dari pukul 06.00-11.00 WIB. Tepatnya di Park and Ride Thamrin 10, Menteng, Jakarta. Bersebelahan dengan Hotel Sari Pan Pacific.

Menariknya, kali ini CFD Jakarta akan dibalut dengan budaya Jawa Tengah berupa tarian-tarian khasnya. Salah satunya, Tari Bedhaya Ketawang. Pada prinsipnya, Bedhaya Ketawang adalah tarian kebesaran yang ditampilkan dalam agenda khusus kenegaraan. Di antaranya, penobatan tahta juga Tingalandalem Jumenengan Sunan Surakarta (upacara peringatan kenaikan tahta raja).

Secara etimologi, nama Bedhaya Ketawang diadopsi dari dua kata. Bedhaya berarti penari wanita istana, lalu Ketawang mengacu kepada langit. Jadi, Tari Bedhaya Ketawang ini mengacu kepada nilai tinggi, keluhuran, dan kemuliaan. Tarian ini menjadi sakral karena titik sentralnya Tuhan Yang Maha Esa. Lalu, Bedhaya Ketawang ini dibawakan oleh 9 penari dengan filosofi berbeda.

Komposisi penari terdiri dari Batak sebagai simbol pikiran dan Jiwa. Ada juga Endhel Ajeg simbol nafsu dan Endhel Weton sebagai gambaran tungkai kanan. Lalu, ada Apit Ngarep dan Apit Mburi sebagai ciri dari kedua lengan. Untuk tungkai kiri dilambangkan Apit Meneg. Penari lain disebut Gulu dan Dhaha sebagai simbol badan. Untuk penari ke-9 disebut Buncit yang jadi konstelasi bintang-bintang.

Selain Bedhaya Ketawang, karakter khas lainnya dari Jawa Tengah juga ditampilkan melalui Tari Gambyong. Ini adalah tarian Jawa klasik dengan beragam varian. Dari sekian banyak genre, yang familiar adalah Tari Gambyong Pareanom dan Tari Gambyong Pangkur. Gerakannya terdiri dari 3 bagian utama, yaitu maju beksan, beksan, dan mundur beksan. Inti gerakan terpusat pada kaki, lengan, tubuh, dan kepala.

Selaras tariannya, pandangan mata penari juga mengikuti gerakan ujung jari tangan. Dengan karakter khasnya, tarian ini juga mudah dikenali. Penari Gambyong umumnya mengenakan kostum dengan dominasi warna kuning dan hijau. Warna ini menjadi simbol kemakmuran dan kesuburan. Lalu, tarian ini selalu dibuka dengan Gendhing Pangkur.

Nuansa budaya Jawa kian terasa di Pesona Borobudur Car Free Day Jakarta dengan menampilkan Tari Ronggeng dan Tari Ketek Ogleng. Tari Ronggeng ini memungkinkan pasangan saling bertukar bait-bait puitis ketika menari. Secara garis besar, Tari Ronggeng ini dimiliki Jawa dan Sunda. Tari Ronggeng memungkinkan penari untuk mengundang penonton pria dengan harapan mendapatkan uang tips.

Khusus Tari Kethek Ogleng, kesenian ini menjadi salah satu kekayaan di bumi Wonogiri, Jawa Tengah. Tari ini diadopsi dari cerita kera jelmaan Raden Gunung Sari dalam cerita Panji. Pergi mencari Dewi Sekartaji, Gunung Sari lalu menjelma menjadi kera putih yang lincah dan lucu. Tarian Kethek Ogleng ini dijamin semakin menguatkan kebudayaan dari Pesona Borobudur di Car Free Day Jakarta.

Menteri Pariwisata Arief Yahya juga sangat mendukung pelaksanaan CFD Borobudur. “Jawa banyak memiliki seni dan budaya. Bisa menyaksikan tarian-tarian ini secara langsung tentu luar biasa. Apalagi, Tari Bedhaya Ketawang ini sangat khusus. Pesona Borobudur di Car Free Day Jakarta ini harus jadi prioritas liburan. Sebab, ada banyak kemeriahan yang disajikan di sana,” ucap Menteri asal Banyuwangi tersebut.


Review 1


Borobudur salah satu ikon kebudayaan Jawa yang sudah terkenal akan ada di CFD

Adnan Yollanda